Menu

Mode Gelap
Prabowo: 2045 Indonesia Jadi Ekonomi Keempat Terbesar Dunia Tiga Tahun Lagi Kita Kuat di Energi, Kata Presiden Tekiro dan ITS Surabaya Kembali Gelar Servis Gratis Dan Pelatihan Otomotif Untuk Masyarakat Surabaya Prabowo Minta Pengusaha Muda Jadi Patriot Ekonomi, Jangan Bawa Kabur Kekayaan Prabowo: 1.000 Kawan Terlalu Sedikit, Satu Lawan Terlalu Banyak Saut Situmorang Sebut Korupsi MBG Merampok Orang Lapar, Desak Purbaya Diperiksa

PENDIDIKAN

Local vs Global: Dilema Kirim Qurban ke Luar Negeri atau Tetangga Sendiri

badge-check


					Foto: ilustrasi (AI) Perbesar

Foto: ilustrasi (AI)

INAnews.co.id, Jakarta– Seiring munculnya lembaga kurban digital, banyak muslim kini memiliki pilihan: menyembelih hewan di lingkungan tempat tinggalnya atau mengirimkan kurban ke wilayah konflik dan kemiskinan di luar negeri seperti Palestina atau Afrika. Fenomena ini memicu dilema antara keberkahan lokal dengan urgensi kemanusiaan global. Mana yang seharusnya diprioritaskan menurut kaidah fiqih agar ibadah kita memberikan dampak yang paling maslahat?

Kaidah dasar dalam fiqih kurban sebenarnya mengutamakan lokasi di mana pekurban berada (local priority). Hal ini dikarenakan pekurban disunnahkan untuk menyaksikan langsung proses penyembelihan, memakan sebagian dagingnya, dan membagikannya kepada tetangga terdekat sebagai bentuk penguatan hubungan sosial di lingkungan sendiri. Tetangga memiliki hak prioritas untuk merasakan manfaat kurban kita terlebih dahulu sebelum manfaat itu dialihkan ke tempat lain yang jauh. Syiar kurban akan lebih terasa jika masjid di sekitar rumah kita tetap semarak dengan kegiatan penyembelihan.

Namun, pengiriman kurban ke luar daerah atau luar negeri dibolehkan jika ada alasan mendesak (ḥājjan rājiḥah). Misalnya, jika di lingkungan sekitar sudah terjadi penumpukan daging yang berlebih, sementara di wilayah lain terjadi kelaparan ekstrem atau bencana alam. Dalam kondisi ini, memindahkan kurban ke lokasi yang lebih membutuhkan justru sangat dianjurkan demi menyelamatkan nyawa dan membantu sesama muslim yang menderita. Idealnya, seorang muslim tetap berkurban di lingkungannya untuk menjaga syiar lokal, namun jika memiliki kelebihan rezeki, ia juga bisa menyalurkan kurban tambahan ke wilayah global yang sedang krisis.

Keputusan ini harus didasari atas pertimbangan manfaat yang paling besar bagi umat Islam secara luas. Memilih antara membantu kerabat dekat atau saudara jauh adalah bentuk kematangan dalam memahami skala prioritas syariat. Kurban yang baik adalah yang mampu menyeimbangkan ketaatan pada adab lokal dengan kepekaan nurani terhadap penderitaan global. Mari kita bijak dalam menyalurkan kurban demi keberkahan dunia dan akhirat.*

===========

*KH Bachtiar Nasir | Pembina AQL Qurban Care

Sumber: Al-Mufaṣṣal fī Aḥkām al-Uḍḥiyah, Bab 2: Naql al- Uḍḥiyah

Foto: dok. AQL

AQL Qurban Care: Kurban Terbaik, Manfaat Terluas | Tunaikan kurban Anda bersama AQL Qurban Care: amanah, tepat sasaran, dan penuh keberkahan. WA: 0857 1873 5254, IG: @aql.qurbancare, www.qurbancare.org. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Mahasiswa Institut STIAMI Sukses Menyelesaikan Program Magang di Jepang

2 Juni 2026 - 22:38 WIB

Mahasiswa Institut STIAMI Sukses Menyelesaikan Program Magang di Jepang

Pengukuhan Gelar dan Sertifikasi Internasional 2026 Resmi Digelar di Purbalingga

30 Mei 2026 - 10:27 WIB

After Kurban: Mempertahankan Semangat Pengorbanan di Luar Bulan Żulḥijjah

28 Mei 2026 - 05:55 WIB

Populer PENDIDIKAN