INAnews.co.id, Jakarta– Di hadapan Komisi VI DPR, pimpinan tertinggi PLN mengakui bahwa kondisi bencana Sumatera saat ini lebih sulit ditangani ketimbang tsunami Aceh 2004, bencana yang menewaskan seperempat juta jiwa dan meluluhlantakkan infrastruktur wilayah tersebut.
Pernyataan itu justru menjadi bumerang. Sudirman Said, yang kala tsunami 2004 bekerja langsung di lapangan, mengingatkan bahwa meski infrastruktur hancur total akibat gempa 9,1 SR, listrik kala itu dapat dipulihkan dengan cepat.
“Kalau hasilnya makin buruk dengan peralatan yang makin canggih, dengan penguasaan ilmu yang makin hebat, masalahnya pasti bukan di alat. Masalahnya ada pada orang yang mengurusnya,” kata Sudirman Said di kanal YouTube-nya, Rabu.
Pasca-banjir Aceh 2025, sejumlah wilayah baru mendapat listrik kembali setelah 37 hari, lebih dari sebulan tanpa pasokan. Bahkan Ombudsman Republik Indonesia harus turun tangan dan mengingatkan PLN agar tidak lagi menggunakan laporan “asal Bapak senang” yang menutupi kondisi sebenarnya di lapangan.
Sudirman menegaskan: dengan teknologi yang lebih maju, personel yang lebih terlatih, dan jaringan internasional yang lebih luas, kemunduran kemampuan pemulihan hanya bisa dijelaskan oleh kegagalan manajemen, bukan kegagalan teknis.






