INAnews.co.id, Jakarta– Bolivia menyandang status sebagai negara dengan cadangan litium terbesar di dunia, namun tingkat kesejahteraan rakyatnya justru berada di bawah rata-rata Indonesia. Marina Estella Anwar Bey, Dubes RI untuk Peru dan Bolivia 2018-2023 menyebut kondisi ini sebagai dampak dari sistem pemerintahan sosialis yang dianut Bolivia di bawah kepemimpinan Evo Morales.
“Karena kan dia sosialis, jadi enggak boleh yang kaya,” kata Stella dalam wawancara di kanal YouTube Newlitics yang tayang Rabu (24/6/2026).
Sistem tersebut membatasi kepemilikan aset pribadi, termasuk tanah, sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi berbasis investasi.
Upaya Indonesia untuk mengimpor litium dari Bolivia pun menemui jalan buntu. Proses pengadaan yang harus melalui mekanisme lelang terbuka membuat Indonesia sulit bersaing dengan China dan Korea Selatan yang selama ini mendominasi pasar litium Bolivia.
Di sisi lain, Bolivia juga merupakan negara terkurung daratan atau landlocked, sehingga harus mengandalkan pelabuhan Peru dan Chile untuk kegiatan ekspor-impor. Kondisi ini turut menjadi penghambat pertumbuhan ekonominya.






