Menu

Mode Gelap
Bank Mandiri: Koordinasi Fiskal-Moneter Sokong Stabilitas Rupiah dan IHSG Kadin: Dunia Usaha “Bertahan Saja Sudah Cukup” di Tengah Tekanan Global Direktur INDEF: Ketahanan Ekonomi RI Masih Rentan Bahlil Tegaskan BBM Subsidi tak Naik, Andalkan Royalti Tambang Buzzer Disebut Pakar sebagai “Ideological State Apparatus” Era Digital Machu Picchu dan Ribuan Spesies Kentang, Pesona Peru yang Tak Terduga

EKONOMI

Direktur INDEF: Ketahanan Ekonomi RI Masih Rentan

badge-check


					Foto: Ester Sri Astuti/tangkapan layar Perbesar

Foto: Ester Sri Astuti/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta- Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Ester Sri Astuti menyatakan ketahanan ekonomi Indonesia masih rentan di tengah guncangan geopolitik, energi, dan iklim global. Pernyataan ini disampaikan dalam pembukaan Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun INDEF 2026 bertema “Menavigasi Guncangan Global: Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Krisis Geopolitik, Energi, dan Iklim” di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

“Ketahanan ekonomi Indonesia masih rentan,” kata Ester, merujuk pada tren penurunan devisa negara akibat ketergantungan impor yang relatif tinggi, ketergantungan ekspor pada komoditas, serta tergerusnya jumlah kelas menengah dalam beberapa tahun terakhir.

Ester menjelaskan, kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran yang diteken pertengahan Juni 2026 memang meredakan sebagian tekanan global. Namun dampak konflik tersebut masih dirasakan melalui naiknya harga energi yang menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, memicu inflasi impor, mengganggu arus ekspor-impor, serta meningkatkan persepsi risiko di masyarakat.

Atas dasar itu, kajian tengah tahun INDEF 2026 mengusung tema navigasi, bukan sekadar bertahan dari guncangan. “Navigasi berarti kita tahu ke mana arah yang kita ingin tuju dan kita bergerak dengan strategi, bukan sekadar bereaksi terhadap gelombang yang datang,” ujarnya.

Ester menegaskan INDEF hadir bukan untuk mengklaim memiliki solusi, melainkan menyumbangkan data dan analisis sebagai dasar perumusan kebijakan berbasis bukti. Menurutnya, riset semestinya mendahului lahirnya sebuah kebijakan, kemudian dijadikan proyek percontohan untuk dievaluasi dampaknya sebelum diperluas atau diperbaiki.

Dalam sambutannya, Ester juga menyampaikan apresiasi kepada tim peneliti INDEF yang menyusun buku kajian tengah tahun bertajuk sama, serta berterima kasih kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang berkenan memberikan keynote speech dalam acara yang turut menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kebijakan Fiskal dan Moneter Kamrussamad, anggota Dewan Energi Nasional Fadil Hasan, Direktur Climate Policy Initiative Tiza Mafira, dan pakar hukum internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Pemadaman Listrik, YLKI Siap Gugat PLN, Energi Itu Hak Dasar, Bukan Bisnis

21 Juni 2026 - 21:24 WIB

CWIG Minta OJK Tegas Terkait Promosi Platform Aset Kripto Ilegal

21 Juni 2026 - 15:13 WIB

CBA Sebut Kebijakan Bahlil Berpotensi Ganggu Pasokan Batu Bara PLN

19 Juni 2026 - 23:18 WIB

Populer EKONOMI