Menu

Mode Gelap
Bank Mandiri: Koordinasi Fiskal-Moneter Sokong Stabilitas Rupiah dan IHSG Kadin: Dunia Usaha “Bertahan Saja Sudah Cukup” di Tengah Tekanan Global Direktur INDEF: Ketahanan Ekonomi RI Masih Rentan Bahlil Tegaskan BBM Subsidi tak Naik, Andalkan Royalti Tambang Buzzer Disebut Pakar sebagai “Ideological State Apparatus” Era Digital Machu Picchu dan Ribuan Spesies Kentang, Pesona Peru yang Tak Terduga

INDAG

Kadin: Dunia Usaha “Bertahan Saja Sudah Cukup” di Tengah Tekanan Global

badge-check


					Foto: Kamrussamad/tangkapan layar Perbesar

Foto: Kamrussamad/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta- Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Kebijakan Fiskal dan Moneter Kamrussamad mengungkapkan dunia usaha Indonesia saat ini menahan diri dari ekspansi investasi dan memilih strategi bertahan akibat tekanan ganda dari faktor domestik dan global. Hal itu disampaikan dalam Seminar Nasional Kajian Tengah Tahun INDEF 2026 di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Kamrussamad menjelaskan bahwa pemadaman listrik bergilir masih menjadi masalah serius bagi industri domestik, termasuk UMKM yang bahan bakunya harus diproses dalam waktu 24 jam namun terganggu akibat tidak adanya pasokan listrik dan minimnya genset cadangan. Di sisi global, konflik geopolitik dua hingga tiga tahun terakhir telah mengganggu laju perdagangan dan menaikkan biaya produksi, terutama bagi industri dengan bahan baku impor yang harus dibayar dalam mata uang asing sementara produknya dijual dalam rupiah.

Kondisi ini, menurutnya, memaksa sejumlah perusahaan menyiapkan opsi merumahkan karyawan dengan pembayaran maksimal 50 persen dari gaji pokok tanpa status PHK. Ia mencatat dari 187 asosiasi dunia usaha yang berhimpun di Kadin, situasi sektor riil tidak begitu baik, diperparah kenaikan suku bunga global menuju rezim bunga tinggi dalam satu hingga dua bulan terakhir.

Kamrussamad juga menyoroti inflasi volatile food yang sudah berada di atas 6 persen, jauh dari narasi inflasi terkendali yang kerap disampaikan pemerintah. Ia menyebut Indonesia mengalami “deindustrialisasi dini” karena dua dekade terakhir struktur ekonomi nasional tidak berorientasi pada penguatan manufaktur, melainkan mengandalkan konsumsi domestik—berbeda dengan Malaysia yang mengembangkan industri semikonduktor atau Singapura dengan hospitality, yang keduanya tercermin pada komposisi perusahaan yang listing di pasar modal mereka.

Terkait subsidi energi, Kamrussamad mencatat alokasi APBN 2026 untuk subsidi dan kompensasi energi mencapai Rp402,4 triliun, namun ekosistem pendukung transisi energi bersih dinilai masih lemah, tercermin dari pasar karbon yang diluncurkan sejak 2024 namun belum mengalami pertumbuhan transaksi signifikan. Ia mendorong agar penggunaan energi hijau menjadi bagian dari gaya investasi dunia usaha, mencontohkan sebuah grup usaha yang berhasil menembus pasar ekspor Eropa setelah smelternya menggunakan energi bersih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Industri Nasional Masih Impor Bahan Baku

18 Juni 2026 - 19:32 WIB

Kurban Online Berisiko Kikis Nilai Sosial dan Spiritual

27 Mei 2026 - 21:10 WIB

ARMO Cargo Pengiriman Barang Indonesia-China

26 Mei 2026 - 12:41 WIB

Populer INDAG