INAnews.co.id, Jakarta– Pakar komunikasi politik, Prof. Henri Subiakto, melayangkan kritik tajam terhadap kebiasaan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai gemar melakukan perjalanan ke luar negeri tanpa memikirkan konsekuensinya. Melalui akun X pribadinya pada Selasa (2/6/2026), Henri menyebut watak tersebut merupakan karakter lama yang sudah melekat sejak Prabowo masih aktif di militer.
Menurut Henri, rekam jejak digital dan sejarah mencatat bahwa kebiasaan pergi ke luar negeri tanpa izin atasan menjadi salah satu poin krusial yang membuat Prabowo diberhentikan dari TNI pada tahun 1998 silam. Hal itu tertuang dalam dokumen resmi Dewan Kehormatan Perwira (DKP) Nomor: KEP/03/VIII/1998/DKP.
“Nampaknya karakter ‘nglencer’ (bepergian) keluar negeri tetap dia teruskan,” tulis Henri, merespons cuitan Dino Patti Djalal.
Ia menilai, jika dulu saat masih terikat sumpah prajurit dan memiliki atasan saja Prabowo berani mengabaikan aturan, maka saat ini kondisi tersebut jauh lebih sulit dikontrol. Pasalnya, sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Indonesia, praktis tidak ada figur yang harus ditaati oleh Prabowo, kecuali karena adanya keterpaksaan politik.
Kritik ini disampaikan Henri sekaligus sebagai bentuk dukungan moral kepada mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, yang sebelumnya juga gencar menyoroti urgensi dan efisiensi kunjungan luar negeri pemerintah. Henri meminta Dino untuk tidak patah arang dalam menyuarakan kritik.
“Jadi Bung @dinopattidjalal tetaplah mengkritik dan menasihati tanpa harus berkecil hati jika tidak diikuti oleh orang yang memang ‘keras kepala’ sejak dulu,” pungkasnya.






