INAnews.co.id, Jakarta– Pengamat politik Adi Prayitno menyoroti pengunduran diri mendadak Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang yang terjadi tanpa tanda-tanda sebelumnya. Dalam video yang diunggah lewat kanal YouTube pribadinya, Rabu (22/7/2026), Adi menyebut kepergian Nanik menimbulkan spekulasi luas di kalangan publik meski alasan resmi yang disampaikan adalah ingin fokus berobat.
“Mundurnya kepala BGN Nanik S Deyang ini tak ada angin dan tak ada hujan. Hari ini Nanik mengundurkan diri dari posisinya sebagai kepala BGN,” kata Adi.
Ia mengatakan alasan yang disampaikan Nanik sendiri adalah ingin berkonsentrasi pada penyembuhan penyakit yang tengah dideritanya, yang menurut Adi tergolong cukup serius. “Katanya ingin fokus pada penyembuhan yang saat ini sedang sakit, terutama sakitnya itu adalah sesuatu yang mungkin relatif agak serius,” ujarnya, seraya mendoakan kesembuhan Nanik.
Namun, Adi mengakui bahwa di media sosial muncul dugaan lain di balik mundurnya Nanik, termasuk tekanan publik terkait polemik program Makan Bergizi Gratis (MBG). “Ada yang mengaitkan bahwa jangan-jangan mundurnya Ibu Nanik ini karena tekanan menjadi kepala BGN itu bukan perkara gampang,” katanya, menyebut kritik soal desakan penghentian program serta tuntutan asosiasi pengusaha dapur MBG soal kepastian nasib mereka.
Terlepas dari spekulasi tersebut, Adi menilai kinerja Nanik selama menjabat justru relatif lebih baik dibanding pendahulunya. “Kinerja dan prestasinya itu relatif jauh lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya,” ucapnya, menyinggung sejumlah langkah Nanik seperti menyuspensi dapur yang menyajikan menu tidak higienis serta membuka ruang bagi publik untuk melaporkan dugaan kecurangan lewat video yang diviralkan.
Sosok Pengganti: Sudaryono
Adi kemudian menyoroti penunjukan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono sebagai kepala BGN yang baru. Ia menilai latar belakang Sudaryono di bidang pertanian dan pangan, termasuk riwayat pendidikan doktoralnya di IPB, dianggap relevan dengan tugas mengelola program makan bergizi.
“Portofolio dan latar belakang Pak Sudaryono yang semacam inilah yang kemudian diyakini, dianggap pas dan cocok untuk memimpin kepala BGN yang baru,” kata Adi.
Ia juga menilai kedekatan Sudaryono dengan Presiden Prabowo Subianto menjadi salah satu pertimbangan penting di balik pengangkatannya. “Sudaryono adalah sosok yang cukup dekat dan tentu saja mampu menerjemahkan keinginan dan suasana batin yang diinginkan oleh Presiden,” ujarnya, seraya menyebut program MBG sebagai “wajah kekuasaan hari ini” yang dianggap perlu dikelola oleh figur yang dipercaya penuh oleh Presiden.
Tuntutan Zero Toleransi
Adi turut mengapresiasi pernyataan Sudaryono usai dilantik yang menegaskan sikap tanpa kompromi terhadap penyimpangan dalam pengelolaan MBG. “Zero toleran. Tidak ada toleransi apapun bagi mereka yang melakukan tindakan korupsi… tidak ada ruang-ruang gelap,” kata Adi menirukan pernyataan Sudaryono.
Meski demikian, Adi mengingatkan agar pernyataan itu tidak berhenti sebagai janji politik semata. Ia mendesak agar kasus dugaan jual beli titik dapur MBG ditelusuri secara serius. “Harus ditelusuri dan harus diungkap bahwa itu tidak sesuai dengan kaidah hukum,” tegasnya.
Ia juga meminta agar dapur penyedia MBG yang terbukti melanggar ketentuan, termasuk yang menyebabkan kasus keracunan, tidak hanya dikenai sanksi administratif. “Kalau perlu harus ada konsekuensi hukum pidana supaya tidak terulang hal-hal yang semacam ini,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Adi menegaskan bahwa program MBG harus dijauhkan dari kesan sebagai ladang bisnis atau pencarian keuntungan. “Yakinkanlah bahwa MBG ini tujuannya adalah mulia, bukan bisnis, bukan mencari untung, tapi adalah untuk memenuhi gizi dan menghilangkan stunting di Indonesia,” pungkasnya.






