INAnews.co.id, Jakarta– Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di RT 013/RW 08, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Senin (17/8/2026), berlangsung dengan warna berbeda dari biasanya. Selain rangkaian lomba khas Agustusan, warga setempat turut mengikutsertakan enam ekor primata peliharaan keluarga “Ayah Baim” dalam dua cabang lomba: makan kerupuk dan minum jus buah naga.
Primata Ikut Lomba Kerupuk dan Jus Buah Naga
Enam primata yang diikutkan dalam lomba tersebut adalah Baim (4), Dexter (3), Keyna (3), Memey (3), Zoya (7 bulan), dan Zero (15). Dari dua lomba yang digelar, lomba makan kerupuk dimenangkan oleh Dexter, sementara lomba minum jus buah naga dimenangkan oleh Zero.
Nirmala (32), pengasuh yang akrab disapa “Bunda” Zoya, mengaku sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut bersama primata asuhannya yang baru berusia tujuh bulan. “Seru, seru banget. Pokoknya seru banget,” ujarnya saat ditanya soal kesannya mengikuti acara tujuh belasan tahun ini.

Foto: Nirmala, pemilik primata Zoya
Menurut Nirmala, ini merupakan kali pertama Zoya mengikuti lomba semenjak diasuhnya sejak usia dua minggu. “Untuk Zoya, karena baru pertama jadi ya selaw aja kali ya,” katanya, sembari menambahkan bahwa dirinya turut membantu Zoya dalam lomba makan kerupuk. “Untuk kerupuk aku bantuin,” ucapnya.
Samsul Hidayah, yang disapa “Ayah” Baim, menjelaskan bahwa keikutsertaan para primata dalam perlombaan sudah direncanakan sejak awal untuk menambah kemeriahan acara. “Jarang ada primata yang kita sayangi sampai kita ikutin lomba,” katanya. Ia menyebut tahun ini merupakan tahun kedua para primata tersebut ikut serta dalam lomba 17 Agustus di lingkungan RT setempat, setelah sebelumnya hanya mengikuti lomba makan kerupuk pada tahun lalu.

Foto: Samsul Hidayah ‘Ayah Baim’, pemilik primata Baim, Dexter, Keyna, Memey, dan Zero
Dalam lomba minum jus buah naga, Samsul mengungkapkan pihaknya sengaja menurunkan Zero karena postur tubuhnya yang besar. “Kita megang si Zero, karena dia besar badannya, ngenyota lebih kuat daripada yang lain,” jelasnya.
Perawatan, Vaksin, hingga Pengobatan Tradisional
Soal perawatan harian, Nirmala menegaskan bahwa pola asuh Zoya tidak dilakukan sembarangan dan selalu berkoordinasi dengan pengelola. “Kita nggak sembarangan, pasti dari ibaratnya kayak misalnya kita kan rawan ya namanya baby kan rawan kayak penyakit atau apa. Pasti kalau misalnya ada pupnya yang berbeda aja kita pasti nanya,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa pihaknya juga menggunakan minyak tawon untuk keperluan perawatan ruam popok Zoya.
Samsul Hidayah menjelaskan bahwa vaksinasi primata mengikuti program vaksinasi gratis dari pemerintah yang digelar di tingkat RW setahun sekali. “Kalau vaksin kita ikutin program pemerintah, kan ada tuh di RW-RW, kayak vaksinasi gratis kan,” ujarnya. Ia menyebut vaksin rabies menjadi prioritas utama demi keamanan bersama, meski kasusnya jarang terjadi pada primata. “Vaksinasi rabies itu tetap harus untuk keamanan kita dan keluarga,” tegasnya.
Selain vaksin, kata Samsul, para primata juga rutin diberi vitamin, baik dalam bentuk suntikan maupun konsumsi langsung. Untuk penyakit ringan, keluarga tersebut mengandalkan pengobatan tradisional. “Biasanya sih kita kayak pake kunyit-kunyitan aja kali ya, kunyit sama madu aja cukup,” katanya, sembari menceritakan bahwa Baim sempat sakit diare dan sariawan selama tiga hari sebelum akhirnya pulih dan kembali aktif.
Samsul juga menegaskan bahwa keakraban para primata dengan warga sudah terjalin sejak awal tanpa pernah menimbulkan masalah. “Karena bayimnya ini terlalu friendly, friendly ke siapa aja, ke warga, ke anak kecil, ke siapapun. Jadi warga ya welcome,” ucapnya. “Nggak ada problem, nggak ada apa-apa,” tambahnya.
Warga dan Ketua RT Sambut Antusias
Ketua RT 013/RW 08 Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, H. Nurul Jamil (48), mengaku peristiwa ikut sertanya keluarga primata dalam lomba 17 Agustus merupakan hal langka yang tidak ditemukan di wilayah lain. “Langka, peristiwa yang langka di tahun 2026 ini, lomba bermata gitu ya. Karena memang sangat unik di wilayah kita ini, nggak ada di wilayah-wilayah lain,” ujarnya.
Jamil memastikan tidak ada satu pun warga yang keberatan atau melayangkan protes atas keikutsertaan para primata dalam perlombaan. “Oh nggak ada, alhamdulillah kita warga semua support. Sangat menghibur intinya, sangat menghibur,” katanya.

Foto: Ketua RT 013/RW 08 Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja, H. Nurul Jamil
Ia juga mengungkapkan bahwa keluarga Baim turut berperan sebagai donatur utama dalam perayaan HUT RI di wilayahnya. “Ayah bayim ini salah satu donatur. Insya Allah beliau ini akan memberikan uang sumbangan, ya sekian lah,” ungkap Jamil. Menurutnya, dengan besarnya sumbangan tersebut, warga bahkan sempat menolak untuk turut patungan karena kebutuhan logistik acara telah tertutupi. “Ya sudah tertutupi, warga kita tolak, karena sudah cukup dari ayah bayim,” tuturnya.
Mengenai pola makan para primata, Jamil menyebut menu hariannya tak jauh berbeda dari makanan manusia pada umumnya, meski dengan catatan tertentu. “Makan sehari-harinya nasi padang, mungkin gado-gado kali ya, mungkin nggak suka pedas,” jelasnya.
Rangkaian Lomba 17-an dan Malam Puncak
Selain lomba makan kerupuk dan minum jus yang diikuti para primata, Jamil menjelaskan bahwa RT 13 turut menggelar berbagai perlombaan lain untuk warga, mulai dari lomba karaoke, hafalan Alquran, azan, hingga balap karung. “Kemarin kita lomba, termasuk lomba karaoke, hafalan Quran, azan yang kira-kira mendidik untuk anak-anak kita kan,” katanya, menambahkan bahwa lomba-lomba tersebut ditujukan untuk mengembangkan bakat dan mental anak-anak di wilayahnya.
Rangkaian perayaan HUT RI di RT 13 berlangsung selama tiga hari, dengan malam puncak sekaligus pembagian hadiah dijadwalkan pada 29 Agustus 2026. Jamil menyebut sekitar 30 anak dari wilayah RT 13 turut berpartisipasi dalam berbagai perlombaan tersebut. “Kurang lebih 30 anak,” ujarnya, seraya menegaskan bahwa setiap RT di lingkungannya menggelar acara serupa secara mandiri.






