Menu

Mode Gelap
Dompet Dhuafa Ubah Dana Umat Jadi RS dan Aset Wakaf Produktif Indonesia Masih Kalah Bersaing di Industri Halal Global Perbankan Syariah Tumbuh, UMKM [Masih] Tertinggal Kemendes Gandeng 10 Asosiasi Desa Kawal Program Koperasi Merah Putih Peringkat Ekonomi Syariah Indonesia Turun, INDEF Ungkap Penyebabnya Zulkifli Hasan: Kopdes Merah Putih Jadi Infrastruktur Distribusi Bansos

SOSIAL

Dompet Dhuafa Ubah Dana Umat Jadi RS dan Aset Wakaf Produktif

badge-check


					Foto: Bobby P Manullang/tangkapan layar Perbesar

Foto: Bobby P Manullang/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta- General Manager Mobilisasi Wakaf Dompet Dhuafa, Bobby P Manullang, memaparkan strategi lembaganya mengonversi dana zakat dan wakaf masyarakat menjadi aset sosial produktif, seperti rumah sakit (RS) dan sekolah, alih-alih sekadar menyalurkan bantuan konsumtif kepada penerima manfaat (mustahik).

Pemaparan ini disampaikan Bobby dalam diskusi panel Seminar Nasional Catatan Tengah Tahun Ekonomi Syariah 2026 yang digelar CSED INDEF di Universitas Paramadina, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Bobby menjelaskan, hingga saat ini Dompet Dhuafa telah mengembangkan tujuh rumah sakit berbasis wakaf, dengan total valuasi aset wakaf mencapai sekitar Rp244 miliar untuk komponen tanah dan bangunan saja. Menurutnya, nilai aset tersebut bisa melonjak hingga tiga kali lipat jika dihitung sebagai entitas bisnis yang telah beroperasi penuh dengan pasien, mitra farmasi, dan skema BPJS Kesehatan.

Salah satu inovasi yang diterapkan adalah skema syariah blended finance, di mana aset properti rumah sakit dibiayai dari dana wakaf, sementara biaya layanan kesehatan bagi mustahik disubsidi menggunakan dana zakat melalui skema kepesertaan BPJS Kesehatan yang bersifat revolving. Dompet Dhuafa juga menerapkan skema join operation dengan mitra pengelola bisnis, di mana lembaga tetap mempertahankan mayoritas kepemilikan sebagai nazir demi menjaga status wakaf aset.

Bobby turut menyoroti pergeseran profil donatur Dompet Dhuafa yang kini didominasi kalangan milenial berusia 24-35 tahun, mencapai 48 persen dari total donatur, seiring meningkatnya penghimpunan dana melalui kanal digital. Ia berharap ke depan ada relaksasi regulasi yang memungkinkan lembaga amil zakat dan nazir wakaf menerbitkan instrumen surat berharga berbasis wakaf, guna memperluas akses pembiayaan komersial bagi pengembangan aset-aset sosial umat.

Di akhir sesi, Bobby berpesan agar masyarakat tidak ragu menyalurkan hartanya untuk berwakaf. “Jangan takut untuk berwakaf, sebab siapa orang yang paling beruntung? Orang yang meski sudah mati tapi masih terus mengalir pahalanya,” ujarnya.

“Kita harus tetap optimis menyongsong 2029, kalau memang tekad kita semua Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah dunia, pusat industri halal dunia. Kita harus optimis, kita harus kerja keras, komit, dan konsisten. Man jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan mendapatkan hasilnya,” pungkas Bobby.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Sejarawan: LGBT Ancaman Kemanusiaan

13 Juli 2026 - 10:39 WIB

Setelah Dilantik Pengurus Lantip Tangsel Bersiap Merayakan HUT Lantip ke 8

4 Juli 2026 - 03:38 WIB

Tuntutan Demo Mahasiswa 3 Hari Berturut-turut Rasional

19 Juni 2026 - 22:56 WIB

Populer PENDIDIKAN