INAnews.co.id, Jakarta– Masalah mismatch antara lulusan pendidikan dan kebutuhan industri bukan hal baru di Indonesia. Namun Deniey A. Purwanto dari INDEF kini menawarkan referensi konkret yang layak diadaptasi: model “four in one” yang sukses diterapkan Jerman.
Dalam model tersebut, empat tahapan terintegrasi secara mulus: pendidikan formal, magang, sertifikasi keahlian, dan kontrak kerja. Hasilnya, peserta yang menyelesaikan program memiliki jalur jelas menuju lapangan kerja formal.
“Di Jerman itu sudah terintegrasi — pendidikan, magang, sertifikasi, lalu kontrak kerja. Satu program yang tidak terputus,” ungkapnya dalam podcast Indepinde yang ditayangkan kanal resmi INDEF, Kamis (5/3/2026).
Deniey mengakui Indonesia masih dalam tahap merancang integrasi serupa. Program magang yang dijalankan Kemnaker sudah berjalan, namun ia mempertanyakan efektivitasnya lebih dalam: berapa persen peserta yang benar-benar terserap kerja? Seberapa cepat mereka mendapat pekerjaan setelah magang? Dan berapa yang sampai pada tahap kontrak?
“Yang paling penting, dari sekian yang ikut pemagangan di satu perusahaan, berapa yang sampai ke kontrak?” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya upskilling dan reskilling, tidak hanya bagi pencari kerja baru, tetapi juga bagi pekerja yang sudah aktif namun perlu beradaptasi dengan tuntutan industri yang terus berubah — termasuk di era kecerdasan buatan.






