Menu

Mode Gelap
War Tiket Haji Picu Keresahan, 57 Persen Publik Tolak Wacana Mantan Mendikbud Kritik Wacana Penutupan Prodi: Jangan Korbankan Ilmu Murni Membangun Ekosistem Olahraga Basket Yang Kompetitif Dan Berkelanjutan, Garuda West Gelar Turnamen Kelompok Umur Kementerian Haji Baru Dibentuk, Citra Langsung Hancur di Publik 15 Tuntutan AS versus 10 Tuntutan Iran: Jalan Buntu Antrean Haji 26 Tahun, Sistem War Tiket Bukan Solusi

GLOBAL

15 Tuntutan AS versus 10 Tuntutan Iran: Jalan Buntu

badge-check


					Foto: Pitan Daslani/tangkapan layar Perbesar

Foto: Pitan Daslani/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– AS mengajukan 15 tuntutan, sementara Iran mengajukan 10 tuntutan. Di antaranya, AS meminta Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun, sesuatu yang ditolak mentah-mentah oleh Teheran karena dianggap sebagai hak kedaulatan.

Iran sebaliknya menuntut AS menarik seluruh pasukannya dari Jazirah Arab, mencabut semua sanksi, dan membayar ganti rugi 500 miliar dolar atas kerugian ekonomi sejak sanksi diberlakukan tahun 1979.

Pengamat politik internasional Pitan Daslani mengingatkan fakta sejarah yang kerap terlupakan: program nuklir Iran justru dibangun dengan bantuan Amerika Serikat sendiri pada masa Presiden Dwight Eisenhower tahun 1957 melalui program “Atoms for Peace”. Perubahan baru terjadi setelah Revolusi Iran 1979. “Ini senjata makan tuan bagi Amerika,” kata Pitan di kanal YouTube-nya Helmy Yahya, Jumat.

Salah satu sorotan utama Pitan adalah manuver Cina yang ia sebut sebagai strategi yudo, membiarkan diri sedikit menderita dalam jangka pendek demi memenangkan persaingan jangka panjang. Cina telah membangun cadangan energi selama 20 tahun terakhir dan mengembangkan energi terbarukan, sehingga mampu bertahan meski Selat Hormuz diblokade total.

Ketika Bahrain mengajukan resolusi di Dewan Keamanan PBB untuk membuka Selat Hormuz, Cina dan Rusia justru memvetonya — dua kali. Menurut Pitan, ini adalah kalkulasi cerdas: jika AS diizinkan mengawal kapal di sana, Washington akan menentukan negara mana yang boleh mendapat pasokan minyak. “Cina tidak mau dicek seperti itu. Kalau Hormuz ditutup, yang justru tetap untung adalah Cina,” jelasnya.

Di sisi ekonomi, Cina membeli minyak Iran dengan harga diskon karena Iran tidak bisa menjual ke pasar bebas akibat sanksi. Pembayarannya pun dilakukan dengan sistem barter barang, bukan dolar.

”Urusan dagang jangan mengajari orang Cina, seperti mengajari ikan berenang,” ujar Pitan. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Potensi Asian Tenggara Jadi Kekuatan Penanganan Perubahan Iklim Global

16 April 2026 - 21:43 WIB

Ancaman Iran atas Selat Hormuz Perlawanan Terencana

14 April 2026 - 22:40 WIB

Prabowo-Putin Pererat Hubungan: Dari BRICS hingga Kemandirian Energi

14 April 2026 - 20:37 WIB

Populer GLOBAL