Menu

Mode Gelap
War Tiket Haji Picu Keresahan, 57 Persen Publik Tolak Wacana Mantan Mendikbud Kritik Wacana Penutupan Prodi: Jangan Korbankan Ilmu Murni Membangun Ekosistem Olahraga Basket Yang Kompetitif Dan Berkelanjutan, Garuda West Gelar Turnamen Kelompok Umur Kementerian Haji Baru Dibentuk, Citra Langsung Hancur di Publik 15 Tuntutan AS versus 10 Tuntutan Iran: Jalan Buntu Antrean Haji 26 Tahun, Sistem War Tiket Bukan Solusi

PENDIDIKAN

Mantan Mendikbud Kritik Wacana Penutupan Prodi: Jangan Korbankan Ilmu Murni

badge-check


					Foto: Anies Baswedan/tangkapan layar Perbesar

Foto: Anies Baswedan/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Anies Rasyid Baswedan, menyampaikan kritik tajam terhadap wacana penutupan program studi yang dinilai tidak relevan dengan industri. Ia mengingatkan agar kebijakan tersebut tidak mengorbankan ilmu murni yang justru menjadi fondasi inovasi jangka panjang.

Melalui cuitan di akun X pribadinya, Sabtu (25/4/2026), Anies mengungkapkan kekhawatiran bahwa langkah yang tampak efisien dalam jangka pendek itu bisa membelokkan arah perjalanan bangsa.

“Ada kebijakan yang tampak efisien dalam jangka pendek, tapi bila tidak hati-hati, justru membelokkan arah perjalanan bangsa dalam jangka panjang,” tulisnya.

Anies menjelaskan, ilmu murni kerap dipandang jauh dari praktik dan kebutuhan industri, padahal di situlah akar hampir seluruh inovasi modern berasal, mulai dari internet, kecerdasan buatan, hingga kemajuan di bidang kesehatan.

Ia menegaskan bahwa relevansi tidak selalu bisa diukur dalam horizon waktu pendek. Negara yang hanya menyiapkan tenaga siap pakai tanpa melahirkan pemikir-pemikir dasar, menurut Anies, berisiko terjebak sebagai pengguna belaka.

“Kita menjadi pasar, bukan pencipta. Kita mengimpor solusi, alih-alih menghasilkan jawaban dari dalam negeri,” ujarnya.

Lebih lanjut, mantan Mendikbud itu menekankan bahwa kebijakan publik yang kuat, seperti penanganan pandemi, perubahan iklim, hingga kebijakan fiskal, berakar pada ilmu-ilmu yang sering dianggap “tidak praktis”. Menutup atau melemahkan ilmu murni berarti mengurangi kemampuan bangsa memahami dunia secara mendalam.

Anies mengakui bahwa keterhubungan dengan industri itu penting, namun menjawab tantangan zaman tidak harus dengan menutup ilmu murni. “Yang diperlukan adalah menjembatani, bukan menggantikan,” tegasnya.

Ia menutup dengan pesan bahwa pendidikan tinggi bukan sekadar mencetak pekerja bagi industri, tetapi tentang menyiapkan masa depan dan membangun peradaban bangsa. “Dengan menjaga keseimbangan itulah, kita dapat berdiri tegak sebagai bangsa yang tak hanya mengikuti kemajuan dunia, tetapi juga menciptakannya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Healing dengan Kurban: Mengobati Penyakit Hati Melalui Aliran Darah Nusuk

26 April 2026 - 13:22 WIB

Kementerian Diksaintek Libatkan Guru Besar untuk Proyek Giant Sea Wall

21 April 2026 - 15:45 WIB

Gelar Silaturahmi Idulfitri, DDII Tegaskan Komitmen Bangun Indonesia Adil Makmur 2045

20 April 2026 - 12:33 WIB

Populer PENDIDIKAN