INAnews.co.id, Jakarta– Di tengah tekanan fiskal yang kian berat, ekonom Yanuar Rizky menilai hanya ada satu jalan rasional yang bisa ditempuh: pengetatan belanja negara atau ‘diet anggaran’, yang harus dilandasi konsensus politik lintas pemimpin.
Yanuar mengkritik pola kebijakan pemerintah yang dinilainya cenderung menyenangkan semua pihak, elit nasional melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG), dan elit desa melalui Koperasi Merah Putih, tanpa melakukan efisiensi berarti. Seluruh belanja itu dibiayai dengan memperlebar defisit dan menambah utang.
“Jangan tiup lagi balonnya. Kalau bisa, kempesin. Tapi harus ada kesepakatan bersama dulu,” kata Sabtu (2/5/2026) kepada Abraham Samad.
Ia mengusulkan agar Presiden Prabowo Subianto memimpin konsolidasi dengan para mantan presiden, Joko Widodo, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Megawati Soekarnoputri, untuk membangun konsensus nasional baru. Tanpa konsensus itu, menurut Yanuar, upaya memangkas belanja akan terus tersandera oleh kepentingan politik masing-masing kelompok.
“Harusnya Presiden Prabowo bisa memimpin konsolidasi antar kepemimpinan ini untuk tobat bersama,” ujar Yanuar. Ia menambahkan, jika tidak ada perubahan arah kebijakan, rupiah berpotensi terus tertekan secara bertahap, dari Rp19.000, Rp21.000, hingga Rp25.000, seiring dengan ‘meletusnya’ satu per satu isu-isu struktural yang selama ini ditahan.
Yanuar menegaskan, masalah ini bukan semata-mata warisan satu rezim, melainkan akumulasi kesalahan struktural lintas pemerintahan yang harus diselesaikan bersama-sama demi menjaga kedaulatan fiskal Indonesia.






