Menu

Mode Gelap
Amendemen UUD 1945 Disebut Kudeta Konstitusi Berkedok Reformasi Oligarki Rampok Negara, Prabowo Disebut Presiden Pertama yang Berani Lawan Jalan Pemakzulan Berlapis, Konstitusi Jadi Benteng Presiden Bukan Rakyat yang Minta, Ini Dalang di Balik Wacana Pemakzulan Pemakzulan Prabowo Realistis tapi Syaratnya Belum Terpenuhi Anggota Dewan Minta Pemerintah Meningkatkan Kewaspadaan Sistem Deteksi Dini Hantavirus

HUKUM

Oligarki Rampok Negara, Prabowo Disebut Presiden Pertama yang Berani Lawan

badge-check


					Foto: Said Didu/tangkapan layar Perbesar

Foto: Said Didu/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Praktik perampokan fiskal oleh oligarki selama bertahun-tahun diungkap secara gamblang oleh mantan Sekretaris BUMN Muhammad Said Didu. Demikain disampaikannya dalam diskusi di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Ia menyebut tiga modus utama yang digunakan: under invoice atau memanipulasi nilai ekspor, transfer pricing melalui rekayasa struktur perusahaan lintas negara, dan manipulasi kode bea cukai untuk memperkecil pajak.

Bukti konkretnya mencolok: data BPS mencatat luas kebun sawit hanya 8,7 juta hektar, sementara survei lapangan menunjukkan angka sesungguhnya mendekati 20 juta hektar. Selisih itulah yang selama ini lenyap dari kas negara.

Said Didu menyebut Prabowo sebagai presiden pertama yang berani mengambil sikap tegas. Bahkan sebelum resmi menjabat, masih sebagai Menteri Pertahanan, Prabowo sudah memerintahkan penghentian negosiasi dengan pemilik ilegal kawasan hutan dan tambang, berbeda total dengan pendekatan era Jokowi yang memilih negosiasi melalui Tim PKH pimpinan Luhut Pandjaitan.

Untuk memulihkan fiskal negara secara cepat, Said Didu menunjuk Tim Penertiban Kawasan Hutan (PKH) pimpinan Sjafrie Sjamsoeddin sebagai instrumen paling konkret. Pengambilalihan aset ilegal secara masif, menurutnya, bisa langsung menghasilkan ratusan triliun rupiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Bivitri: “Antek Asing” Senjata Klasik Penguasa Otoriter

8 Mei 2026 - 18:03 WIB

CBA Minta Kejagung Periksa Dugaan Mark Up Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat di Jawa Timur

7 Mei 2026 - 20:38 WIB

Buruh Perempuan Mengadu, Negara Justru Bela Pengusaha

6 Mei 2026 - 23:36 WIB

Populer HUKUM