Menu

Mode Gelap
Kurban Online Berisiko Kikis Nilai Sosial dan Spiritual Klik “Bayar” di Aplikasi Sudah Dianggap Akad yang Sah Platform Kurban Online Wajib Transparan dan Akuntabel Kurban Online Sah, tapi Belum Tentu Ideal Myth vs Fact: Menjawab Mitos-Mitos Seputar Qurban di Masyarakat Juli 2026, Solar Impor Indonesia Ditarget Nol Persen

BUDAYA

Perbedaan Baduy Dalam dan Baduy Luar

badge-check


					Perbedaan Baduy Dalam dan Baduy Luar Perbesar

INAnews.co.id – Suku Baduy merupakan suku yang hidup di alam pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak Banten. Warga suku Baduy hidup berdampingan dan bergantung pada alam sekitar dan menjadikan suku Baduy tidak mengirimkan anak anaknya untuk bersekolah dan menuntut ilmu layaknya masyarakat pada umumnya.

Suku Baduy terbagi menjadi beberapa kelompok yaitu Baduy Dalam dan Baduy Luar. Perbedaan antara keduanya adalah terletak pada tata cara menjalankan aturan adat atau yang dikenal Pikukuh.

Suku Baduy dalam masih memegang teguh aturan adat dan menjalankan dengan baik, suku baduy dalam memakai ikat kepala berwarna putih, sementara Suku Baduy Luar sudah terpengaruh pola hidup masyarakat Modern jaman sekarang, dan Baduy Luar memakai baju berwarna hitam .

Suku Baduy Luar, suku Baduy dalam dengan pikukuh yang masih ketat melarang menggunakan Handphone dan elektronik lainnya, secara keseluruhan masyarakat Baduy dalam masih memilih hidup tanpa listrik, alas kaki dan juga tetap berjalan kaki.

Mata pencaharian dari suku ini adalah bertani dan berladang. orang Baduy dalam juga sering pergi ke kota besar seperti Serang, Jakarta, atau Bogor untuk menjual madu dan hasil alam lainnya. Untuk menjaga kelestarian alam, masyarakat Suku Baduy juga membangun rumah dengan menggunakan pondasi dari bahan batu Kali. Hal ini dilakukan tanpa adanya galian tanah. Jadi tidak heran jika tekstur tanah di pemukiman suku ini masih terlihat bergelombang dan alami serta tidak longsor.

Bahkan dalam rangka mewujudkan cita – cita melestarikan dan hidup berdampingan dengan alam adalah ketentuan adat suku Baduy Dalam yang disebut Pu’ung yang melarang jual beli tanah kepemilikan Adat.

Bahasa yang digunakan dari Suku Baduy adalah bahasa Sunda dialek Banten. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar, mereka lancar menggunakan bahasa Indonesia walapun tidak mendapatkan pengetahuan dari bangku pendidikan. Dalam suku ini juga tidak mengenal budaya tulis, sehingga Adat istiadat kepercayaan cerita nenek moyang hanya tersimpan dalam lisan saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 Komentar

  1. Ongkarana sangtabean, pukulun sembah Rahayu. Ahung mangandeg ahung madegdeg. Lebak ulah diruksak, gunung ulah dilebur. Kuntul sauyunan, gagak sagalengan, walik sagiringan. Kudu bisa sareundeuk saigel, sabobok sapehanean. Kudu bisa ka cai jadi saleuwi, ka darat jadi salegok. Kudu bisa silih asuh, silih asah, jeung silih asih.

    Reply
  2. Pembahasan yang menarik! Terima kasih banyak sudah berbagi. Saya tunggu artikel selanjutnya yah..

    Reply
  3. Terima kasih infonya.

    Reply
semua sudah ditampilkan
Baca Juga

Gakeslab DKI Jakarta Berikan Dukungan Penuh Kegiatan “Gakeslab Peduli Baduy”

24 Mei 2026 - 10:13 WIB

KiN Space Sukses Digelar, Hadirkan Pengalaman Budaya Nusantara Interaktif untuk Anak dan Keluarga

20 Mei 2026 - 13:10 WIB

Wakil Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Giring Ganesha Djumaryo di KiN Space 2026

Membantah OMS tak Transparan

8 Mei 2026 - 20:09 WIB

Populer SOSDIKBUD