Sidang Konfortir Perkara Arwan Koty, Saksi Sebut Soal BAST

Menurut Fini , bahwa keterangan saksi Susilo Hadiwibowo pada saat persidangan, jika untuk pembelian alat berat dengan pembayaran cash tidak diperlukan adanya BAST (Berita Acara Serah Terima)

324

INAnews.co.id , Jakarta, -Sidang lanjutan perkara pidana dugaan laporan palsu dengan perkara Nomor 1114/pid.B/2020/PN JKT.Sel yang melibatkan Arwan Koty kembali sidangkan dipengadilan negeri Jakarta Selatan dengan agenda konfrontir.

Sebelumnya sidang pada Rabu 16 juni 2021, pekan lalu terjadi penundaan dikarenakan Jaksa Penuntut Umum dan saksi Susilo Hadiwibowo tidak hadir di persidangan.

Dalam memberikan keterangan pada laporan No.LP/B/0023/1 /2020/ Bareskrim tanggal 13 Januari 2020.

Saksi Susilo Hadiwibowo mengakui bahwa laporan Arwan Koty dihentikan pada tahap penyelidikan bahkan saksi juga mengakui bahwa dirinya telah menandatangani keterangan BAP nya dibawah sumpah.

Dihadapan majelis hakim saksi Susilo Hadiwibowo yang dikonfrontir dengan Fini Fong yang juga istri Arwan Koty mengatatakan bahwasanya Arwan Koty telah membeli Excavator EC 210D secara lunas.

Dalam keterangan di persidangan Rabu 16 juni 2021, Susilo Hadiwibowo menegaskan bahwa Excavator tersebut tidak diserahkan langsung Kepada Arwan Koty selaku pembeli.

Namun diserahkan kepada jasa expedisi. Susilo juga katakan di persidangan bahwa Arwan Koty tidak menerima alat berat yang sudah dipesan.

Dalam keterangannya, Susilo Hadiwibowo menjelaskan bahwa saat  Expedisi mengambil alat berat tersebut di Yard PT Indotruck Utama tidak dibuatkan Berita Acara Serah Terima (BAST) saat pengambilan unit Excavator oleh pihak Expedisi.

” Untuk BAST setahu saya tidak ada , dan juga tidak ada surat kuasa tertulis dari Arwan Koty terkait ekspedisi,” kata Susilo Hadiwibowo di persidangan PN Jakarta Selatan pada Rabu 16 juni 2021.

Pada persidangan di Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) saksi Susilo Hadiwibowo juga mengakui bahwa PT Indotruck Utama pernah menawarkan untuk memfasilitasi untuk menanggung seluruh biaya pihak Arwan Koty untuk mengambil alat berat Excavator.

Namun hal tersebut ditolak oleh pihak Arwan Koty dikarenakan bukti-bukti yang dimiliki oleh PT Indotruck Utama meragukan.

Terkait surat penitipan Excavator di Dit.Pol Air Nabire yang dilakukan oleh Sofiansah dan Asun kepada Hendry Manurung saksi Susilo Hadiwibowo tidak mengetahui adanya surat itu dan dirinya tidak mengetahui surat itu dari mana.

Pengacara Arwan Koty Aristoteles katakan jika dalam memberikan keterangan yang dikonfrontir dengan Fini Fong, keterangan saksi Susilo bertolak belakang dengan keterangan Presdir PT Indotruck Bambang Prijono yang mengatakan bahwa laporan Arwan Koty di hentikan pada tahap penyidikan.

Laporan PolisiDua surat ketetapan S.Tap/2447/XII/2019/Dit.Reskrimum tertanggal 31 Desember 2019 dan surat Ketetapan Nomor:STap/66/V/RES. 1.11/ 2019 /Dit.Reskrimum tanggal 17 Mei 2019 (foto : istimewa)

“Berdasarkan Dua surat ketetapan S.Tap/2447/XII/2019/Dit.Reskrimum tertanggal 31 Desember 2019 dan surat Ketetapan Nomor:STap/66/V/RES. 1.11/ 2019 /Dit.Reskrimum tanggal 17 Mei 2019. ke Dua laporan tersebut dihentikan pada tahap Penyelidikan dan belum ada dampak hukumnya,” ucap Aristoteles saat ditemui INAnews seusai sidang pada Rabu 16 juni 2021.

Dalam perkara pidana ini Fini Fong juga katakan jika suaminya telah diKriminalisasi.

“Suami saya dilaporkan atas laporan palsu yang dilakukan oleh Bambang Prijono, Presdir PT Indotruck Utama. Dalam perkara pidana ini justru Bambang Prijonolah yang telah memberikan keterangan atau laporan palsu kepada penyidik, ” ujar finny Fong.

Menurut Fini , bahwa keterangan saksi Susilo Hadiwibowo pada saat persidangan, jika untuk pembelian alat berat dengan pembayaran cash tidak diperlukan adanya BAST (Berita Acara Serah Terima).

” Namun diberikan Surat Jalan Unit (SJU). Sedangkan Konsumen yang membeli secara leasing Baru dengan adanya BAST, lalu mengapa Arwan Koty selaku konsumen yang membeli secara cash, tetap di berikan Perjanjian Jual Beli dengan kesepakatan adanya BAST dengan penandatangan oleh para pihak,” ungkap Fini pada Rabu 16 juni 2021.

” Dengan demikian terlihat sangat jelas bahwa Laporan yang dilaporkan oleh Arwan Koty bukanlah Pengaduan Palsu dikarenakan justru sangat tepat dan benar laporan Penipuan dan Penggelapan yang dilaporkan oleh Arwan Koty,” sambung Aris.

Aris juga menilai jika dalam laporan tersebut terlihat “Mens rea” niat dan atau unsur bujuk rayu tipu muslihat dan serangkaian kata-kata bohong dengan membuat
perjanjian antara PT. Indotruck Utama dengan Arwan Koty selaku konsumen.

” Yang diketahuinya Arwan Koty membeli alat berat Excavator tersebut secara cash, namun PT. Indotruck Utama membuat dan memberikan Perjanjian secara Leasing atau kredit kepada Arwan koty selaku konsumen yang membeli secara cash,” ucap Aris.

“Maka laporan Arwan Koty dengan LP/B/3082/V/2019/PMJ/Dit. Reskrimum Tanggal 16 Mei 2019 yang dilaporkan oleh Arwan Koty, bukanlah laporan palsu,” tutup Aris.

Baca Juga

Komentar Anda

Your email address will not be published.