Menu

Mode Gelap
Setelah Dilantik Pengurus Lantip Tangsel Bersiap Merayakan HUT Lantip ke 8 Akar Masalah Rupiah Tertekan karena Institusi Lemah, Kata Guru Besar UI Polri Luncurkan Layanan Digital, Respons Panggilan 110 Detik Penghambat Utama Masuk Investasi Asing: Rendahnya Kapasitas SDA Polri Buka Rekrutmen Inklusif bagi Penyandang Disabilitas Independensi Bank Indonesia Terancam Gara-Gara UU P2SK

POLITIK

Ketua Komnas Perempuan: Kepemimpinan dengan Hati Bukan Berarti Tidak Logis

badge-check


					Foto: Maria Ulfah Anshor (kanan)/tangkapan layar Perbesar

Foto: Maria Ulfah Anshor (kanan)/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta- Maria Ulfah Anshor, Ketua Komnas Perempuan, menegaskan bahwa memimpin dengan nurani atau hati merupakan karakter kuat kepemimpinan perempuan yang sering disalahpahami. Menurutnya, kepemimpinan dengan hati justru lebih luas cakupannya dibanding hanya mengandalkan logika.

“Memimpin dengan hati bukan berarti menjadi tidak logik. Hati itu lebih luas, lebih lapang areanya dibanding memimpin hanya dengan otak,” ujar Maria dalam wawancara di kanal YouTube Komnas Perempuan, Selasa (6/1/2025).

Maria menjelaskan bahwa kepemimpinan perempuan mengedepankan empati dan kepedulian tanpa mengabaikan prinsip logika dan rasionalitas. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara pikiran, ungkapan, dan sikap perilaku dalam memimpin.

Mantan anggota DPR periode 2004-2009 ini juga menyoroti budaya patriarki yang masih mendominasi praktik kepemimpinan di Indonesia, seperti sistem kerja DPR yang sering rapat hingga tengah malam tanpa mempertimbangkan tanggung jawab keluarga.

“Dunia ini menjadi seolah-olah dunia laki-laki yang mengabaikan bahwa kita semua, baik perempuan maupun laki-laki, ketika berkeluarga punya tanggung jawab terhadap orang terdekat,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Presiden Apresiasi Peran Polri di Sektor Ketahanan Pangan

2 Juli 2026 - 17:51 WIB

Semakin Digembosi, Gerakan Mahasiswa Semakin Menyatu dan Berani

1 Juli 2026 - 21:32 WIB

Buzzer Disebut Pakar sebagai “Ideological State Apparatus” Era Digital

26 Juni 2026 - 09:47 WIB

Populer POLITIK