INAnews.co.id, Jakarta– Imaduddin Abdullah, Direktur Kolaborasi Internasional INDEF, menegaskan hal itu dalam program Watch on Economy, Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, China berhasil masuk lebih awal ke industri teknologi rendah karbon sejak awal 2000-an melalui investasi besar-besaran di riset dan pengembangan. Hasilnya, mereka kini berada di garis terdepan technological frontier, melampaui Amerika Serikat, Uni Eropa, dan Jepang.
Indonesia, di sisi lain, menghadapi tantangan struktural berupa deindustrialisasi dini—kondisi di mana kontribusi sektor industri terhadap PDB terus menurun.
”Sayangnya, relatif sedikit negara yang setelah mengalami deindustrialisasi bisa naik kembali,” ujar Imad.
Kondisi ini membuat Indonesia kesulitan bersaing memperebutkan relokasi industri dari China yang tengah berhadapan dengan tekanan geopolitik dari Amerika Serikat.






