INAnews.co.id, Jakarta– Ketua Dewan Pakar Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI), Prof Muhammad Syafii Antonio, menegaskan bahwa tantangan terbesar alumni Timur Tengah bukan hanya soal keilmuan dan dakwah, melainkan juga bagaimana membangun kekuatan ekonomi secara mandiri dan berkelanjutan.
Hal itu disampaikan Prof Syafii dalam sesi diskusi Halalbihalal JATTI, Ahad (19/4/2026), di Jakarta.
“Permasalahan terbesar kita itu hanya tiga: kekurangan anggaran, kekurangan uang, dan kekurangan budget,” ujarnya berkelakar, disambut tawa peserta.
Menurut dia, alumni Timur Tengah memikul tiga tugas sekaligus: menjadi dai, menjadi kiai, sekaligus membangun institusi dengan kekuatan ekonomi sendiri. Ia mengingatkan bahwa ketokohan semata tidak cukup untuk menopang keberlangsungan sebuah lembaga.
“Nama besar itu hanya membuka pintu. Setelah itu yang bergerak adalah manajemen, profesionalisme, akuntansi, marketing, audit, dan SDM yang profesional,” tegasnya.
Prof Syafii juga menyoroti pentingnya kaderisasi dan pembangunan sistem kelembagaan yang kuat. Ia mencontohkan sejumlah pesantren yang meredup setelah pendirinya wafat akibat tidak adanya sistem yang memadai.
“Superman itu sudah wafat, yang ada tinggal super team,” katanya.
Dalam kesempatan itu, ia mendorong JATTI untuk menjadi wadah sertifikasi bagi anggotanya, antara lain sebagai pembimbing haji dan umrah, ahli pasar modal syariah, ahli keuangan syariah, hingga manajemen risiko bisnis. Menurutnya, peluang menjadi Dewan Pengawas Syariah (DPS) di lembaga keuangan masih terbuka luas bagi mereka yang menggabungkan penguasaan fikih muamalat, maqasid syariah, dan pengetahuan industri halal.
Prof Syafii juga mengusulkan agar JATTI menerbitkan policy brief triwulanan secara independen, yang fokus pada kepentingan umat dan nilai wasatiyah, tanpa terikat kepentingan politik.
“Mudah-mudahan JATTI benar-benar bisa muncul sebagai satu asosiasi yang solutif,” pungkasnya.






