INAnews.co.id, Jakarta– Jalinan Alumni Timur Tengah Indonesia (JATTI) menggelar Halalbihalal pada Ahad (19/4/2026), menghadirkan tiga tokoh dengan pesan yang saling melengkapi: kebangkitan umat melalui penguasaan teknologi kecerdasan buatan (AI), penguatan ekonomi syariah, dan revitalisasi koperasi sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
AI Harus Jadi Alat Dakwah, Bukan Sekadar Gaya
Ketua Umum JATTI, KH. Bachtiar Nasir, membuka dengan peringatan keras: AI kini telah menjadi infrastruktur peradaban baru, namun umat Islam masih sekadar menjadi konsumennya, bahkan konsumen yang belum cerdas.
“Seringkali kita melihat perdebatan yang ujungnya menggunakan AI hanya untuk terlihat pintar, namun lupa menghapus jejaknya. Ini berbahaya,” tegasnya.
Ia menyerukan agar alumni Timur Tengah bertransformasi dari pengguna menjadi pelaku industri AI, dengan memegang empat prinsip: fokus, amanah, kualitas, dan kolaborasi. Produk AI yang dibangun umat Islam, menurutnya, harus memenuhi lima syarat: bermanfaat nyata, berbasis etika, unggul secara teknis, memiliki kedalaman data lokal, dan mampu berkembang luas.
UBN, sapaan akrabnya, juga menyampaikan optimisme soal masa depan. Berdasarkan data para peneliti, dalam 20 tahun ke depan isu agama dan identitas akan kembali menguat sebagai kekuatan politik global. “Era di mana agama dikucilkan akan berganti menjadi era kemenangan agama,” ujarnya, seraya mendorong anak muda di bawah 40 tahun untuk bersiap tampil di gelanggang kepemimpinan.
YARSI Tawarkan Kemitraan Riset untuk JATTI
Rektor Universitas YARSI, Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D., menyoroti potensi besar yang belum tergarap: sekitar 67.000 mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Timur Tengah, mayoritas di Al-Azhar Mesir.
“Mereka adalah motivator, individu tepercaya, saintis, dan calon ulama. Mereka memiliki modal besar untuk mendukung pengembangan koperasi di Indonesia,” kata Fasli.
Ia mengusulkan program mentoring antara alumni senior dan mahasiswa yang akan pulang, serta menawarkan kolaborasi konkret: 300 dosen YARSI siap meneliti isu-isu yang diajukan JATTI, didukung dana penelitian internal. Universitas YARSI, dengan keunggulan di bidang Ekonomi Syariah, Teknologi Informasi, Psikologi, dan Hukum, siap bermitra penuh dengan JATTI dan Kementerian Koperasi.
Fasli juga mengingatkan peluang besar pembangunan desa. Dengan sekitar 75.000 desa dan 9.000 kelurahan yang tengah mendapat perhatian Presiden Prabowo, alumni Timur Tengah bisa menjadi penggerak ekonomi berbasis masjid dan koperasi desa.
Menteri Koperasi: Rak Terdepan untuk Produk Alumni
Menteri Koperasi, Ferry Joko Juliantono yang hadir langsung usai mendampingi Presiden Prabowo di Magelang memaparkan kondisi koperasi Indonesia yang selama 30 tahun terakhir terpinggirkan akibat liberalisasi ekonomi pasca 1998, dan menegaskan tekad pemerintah untuk membalikkan keadaan.
Pemerintah, kata Ferry, tengah mempercepat pembentukan 83.000 Koperasi Desa Merah Putih yang akan berfungsi sebagai distributor barang subsidi, retail modern, penjamin pasar hasil bumi petani, serta penyedia layanan kesehatan dan keuangan mikro di desa-desa. Negara mengalokasikan sekitar Rp250 triliun untuk program ini.
Kepada jaringan JATTI, Ferry menyampaikan ajakan konkret: mulailah memproduksi barang kebutuhan sehari-hari secara mandiri. “Produk-produk yang dihasilkan oleh jaringan alumni akan saya prioritaskan untuk dipajang di rak paling depan di puluhan ribu gerai Koperasi Desa,” janjinya. Kementerian Koperasi dan LPDB, tambahnya, siap mendampingi dari sisi pembinaan hingga pembiayaan.
Halalbihalal ini menjadi momentum penting bagi JATTI untuk melangkah melampaui silaturahim menuju kolaborasi nyata di bidang teknologi, ekonomi syariah, dan pemberdayaan umat.






