Menu

Mode Gelap
LPG Itu Transisi, Bukan Tujuan Peak Emisi 2035 Terancam, Krisis Geopolitik Bikin Dunia Balik ke Fosil Subsidi LPG Bocor 70 Persen Eks Mendikbud Dituntut 18 Tahun, Lebih Berat dari Teroris The Power of Sharing: Mengikat Persaudaraan Lewat “Hadiyyah” Daging Qurban Pajak 2 Persen Konglomerat Bisa Gratiskan KRL 8 Tahun

EKONOMI

Ekonomi Indonesia Terancam, Utang Tembus Rp9.920 Triliun

badge-check


					Foto: Ikrar Nusa Bhakti/tangkapan layar Perbesar

Foto: Ikrar Nusa Bhakti/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom dan peneliti senior Ikrar Nusa Bhakti menyoroti kondisi perekonomian Indonesia yang disebutnya kian mengkhawatirkan. Dalam kanal YouTube-nya, Sabtu (9/5/2026), ia memaparkan sejumlah indikator yang dinilai mencerminkan rapuhnya fondasi ekonomi nasional.

Mengutip data terkini, utang pemerintah per 31 Maret 2026 telah mencapai Rp9.920 triliun, naik Rp282,52 triliun atau 2,9 persen dari posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp9.637 triliun. Rasio utang terhadap PDB kini berada di angka 40,75 persen. Jika dibagi rata, setiap penduduk Indonesia menanggung beban utang sebesar Rp34,4 juta.

Meskipun rasio tersebut masih di bawah batas 60 persen yang diatur undang-undang, ekonom Core Indonesia Yusuf Rendy Manil mengingatkan bahwa yang patut diwaspadai adalah rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan negara yang sudah mendekati 16,7 persen. Artinya, dari setiap Rp100 penerimaan negara, sekitar Rp16 hingga Rp17 habis hanya untuk membayar bunga utang.

Kondisi itu diperparah oleh defisit APBN yang terus melebar. Pada Januari 2026 defisit tercatat Rp35 triliun, melonjak menjadi Rp135 triliun pada Februari, lalu Rp40 triliun pada Maret. Bila dianualisasi, defisit itu setara 3,72 persen dari PDB, melampaui batas fiskal yang dipatok sebesar 3 persen.

Ikrar juga mengutip peringatan ekonom Feri Alhidayat yang sebelumnya memprediksi dolar Amerika Serikat akan menembus Rp17.000, prediksi yang kini terbukti. Lebih jauh, Feri memperingatkan skenario yang lebih buruk: nilai tukar rupiah bisa anjlok hingga Rp25.000 per dolar AS apabila pengelolaan fiskal tidak dilakukan secara hati-hati.

Ikrar turut mempersoalkan klaim pertumbuhan ekonomi pemerintah sebesar 5,61 persen yang dinilai tidak sejalan dengan indikator riil. Feri menyebut pertumbuhan kredit perbankan yang seharusnya di atas 11 persen justru tumbuh di bawah 8 persen, sehingga pertumbuhan ekonomi riil diperkirakan hanya sekitar 3,7 persen,  jauh di bawah angka resmi. Lembaga pemeringkat internasional pun telah men-downgrade prospek ekonomi Indonesia.

Di tengah tekanan tersebut, posisi Indonesia di kawasan ASEAN juga disebut kian melemah. Saat ini kekuatan ekonomi Indonesia hanya berada di urutan keempat setelah Singapura, Malaysia, dan Thailand, sementara Vietnam dinilai berpotensi melampaui Indonesia dalam waktu tidak lama.

Ikrar mengingatkan bahwa faktor geopolitik global, mulai dari konflik Israel-Iran yang belum mereda hingga perang Rusia-Ukraina, turut menekan ekonomi Indonesia, terutama melalui ancaman kenaikan harga minyak dunia.

Ia menutup paparannya dengan menyerukan penerapan nyata nilai-nilai Pancasila, pemberantasan korupsi yang dinilai menggerogoti program-program pemerintah termasuk makan bergizi gratis, serta kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

94 Persen Respons Publik soal Ekonomi Bernada Skeptis

13 Mei 2026 - 11:52 WIB

Ekonomi Indonesia Berlari Kencang, tapi Staminanya Diragukan

13 Mei 2026 - 07:44 WIB

Daulat Energi Dorong Percepatan Kompor Induksi untuk Serap Surplus Listrik Nasional

12 Mei 2026 - 19:39 WIB

Populer EKONOMI