Menu

Mode Gelap
Dompet Dhuafa Ubah Dana Umat Jadi RS dan Aset Wakaf Produktif Indonesia Masih Kalah Bersaing di Industri Halal Global Perbankan Syariah Tumbuh, UMKM [Masih] Tertinggal Kemendes Gandeng 10 Asosiasi Desa Kawal Program Koperasi Merah Putih Peringkat Ekonomi Syariah Indonesia Turun, INDEF Ungkap Penyebabnya Zulkifli Hasan: Kopdes Merah Putih Jadi Infrastruktur Distribusi Bansos

EKONOMI

Indonesia Masih Kalah Bersaing di Industri Halal Global

badge-check


					Foto: Abdul Hakam Naja/tangkapan layar Perbesar

Foto: Abdul Hakam Naja/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta- Ekonom senior CSED INDEF, Abdul Hakam Naja, menyoroti paradoks industri halal Indonesia: memiliki pasar dan populasi muslim terbesar di dunia, namun justru kalah bersaing dari negara-negara non-muslim dalam ekspor produk halal maupun penarikan investasi asing langsung (FDI) di sektor tersebut.

Pernyataan ini disampaikan Hakam dalam diskusi panel Seminar Nasional Catatan Tengah Tahun Ekonomi Syariah 2026 yang diselenggarakan CSED INDEF di Universitas Paramadina, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Menurut Hakam, lima negara pengekspor terbesar ke negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) justru didominasi negara nonmuslim, yakni Brasil, India, Rusia, disusul Uni Emirat Arab dan Amerika Serikat. Sementara itu, Indonesia justru tercatat sebagai importir produk halal terbesar kedua dunia setelah Arab Saudi.

Ironi serupa juga terjadi di sektor pariwisata ramah muslim. Hakam mencatat, jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia pada 2025 hanya sekitar 15 juta orang, jauh di bawah Malaysia yang mencapai 42 juta kunjungan, bahkan melampaui jumlah penduduk Malaysia sendiri yang sekitar 33 juta jiwa.

“Wisatawan asing yang datang ke Malaysia melampaui jumlah penduduknya, dan kita kurang dari separuh dari wisatawan itu. Padahal Anda bingung kalau ditanya mau wisata ke Malaysia datangnya ke mana. Tapi kalau Indonesia ada Bali, ada mana-mana. Saya kira ini ironis,” ujar Hakam.

Di pasar modal, Hakam mengungkapkan indeks saham syariah dan kapitalisasi pasar modal syariah mengalami tekanan dalam setahun terakhir, dengan penurunan kapitalisasi pasar hampir 40 persen dibanding tahun sebelumnya. Meski demikian, ia menilai instrumen sukuk masih menjadi andalan pembiayaan berbasis proyek, dengan Indonesia berada di peringkat ketiga dunia sebagai penerbit sukuk setelah Malaysia dan Arab Saudi.

Hakam merekomendasikan agar pemerintah fokus mengembangkan tiga sektor unggulan yang berorientasi ekspor, fesyen muslim, makanan halal, dan pariwisata ramah muslim, dengan dukungan kebijakan yang konsisten, mencontoh strategi Malaysia yang menerapkan skema value based intermediation serta kebijakan “syariah first” di sektor perbankan sejak lebih dari satu dekade lalu.

“Kalau kita membangun ekonomi syariah yang hebat dan tahun 2029 targetnya kita mau menjadi pusat halal dunia, kita kalahkan Malaysia, harus total football, harus dirubah semua, termasuk mindset para pemimpin,” pungkas Hakam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Ketua Dekopin Sebut Koperasi Kini Jadi Prioritas Negara

15 Juli 2026 - 16:08 WIB

Kritik Ekonomi Neoliberal, Prabowo Dorong Koperasi Jadi Soko Guru Ekonomi

15 Juli 2026 - 13:02 WIB

Koperasi Merah Putih Diproyeksi Gerakkan Rp223 Triliun per Tahun

14 Juli 2026 - 23:26 WIB

Populer EKONOMI