INAnews.co.id , Jakarta – Mata uang negara Inggris berada dalam tekanan setelah tiga anggota parlemen membelot dari partai Konservatif .
Partai yang dipimpin Perdana Menteri Theresa May tersebut diperkirakan merusak strategi Brexit milik Theresa May.
Kepala Strategi Mata Uang RBC Capital Markets Adam Cole mengatakan bahwa pembelotan anggota parlemen tersebut telah menekan nilai tukar pound sterling.
Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Inggris jatuh ke level US$1.3030 per pound sterling, melemah 0,15% atau turun 0,0020 poin pada perdagangan Kamis (21/2/2019) pukul 13.21 WIB.
Selain itu keluarnya anggota parlemen dari Partai Konservatif Inggris , mengurangi produktivitas parlemen dengan tingkat suara mayor, serta telah meningkatkan kemungkinan pemilihan cepat.
Theressa May kembali ke Brussels untuk menyelamatkan kesepakatan Brexitnya yang ditolak oleh mayoritas parlemen Inggris bulan lalu.
Inggris dapat tersingkir dari blok perdagangan terbesar dunia dalam 37 hari. Jika May tidak dapat membujuk ketua Komisi Eropa Jean-Claude Juncker atau parlemen Inggris untuk memodifikasi kesepakatannya.
Ketidakpastian atas pengaturan perbatasan tersebut juga membebani poundsterling. Rintangan utama Inggris adalah backstop atau kebijakan asuransi .
Tujuannya untuk mencegah kembalinya cek ekstensif di perbatasan antara anggota Uni Eropa, Irlandia dan provinsi Inggris di Irlandia Utara.






