Menu

Mode Gelap
Juli 2026, Solar Impor Indonesia Ditarget Nol Persen Transisi Energi RI Pilih Jalan Tengah: Dekarbonisasi, Bukan Penghapusan Fosil Skor Ketahanan Energi RI Naik, tapi Swasembada Masih Jauh RI Terobos Sanksi, Amankan Minyak Diskon dari Rusia Setiap Dolar Harga Minyak Naik, APBN Jebol Rp6 Triliun Diplomasi Prabowo Selamatkan Energi Indonesia

NASIONAL

Krisis Mengintai, Ini Saran Investasi Ekonom Senior

badge-check


					Foto: Ferry Latuhihin/tangkapan layar Perbesar

Foto: Ferry Latuhihin/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Ketika pasar saham volatile, obligasi tertekan, dan rupiah bergejolak, ke mana seharusnya masyarakat menyimpan dananya? Ekonom senior Prof. Ferry Latuhihin memberikan panduan praktis yang lugas dalam wawancara di PhD 4K Podcast yang tayang Sabtu (28/3/2026).

Ferry memulai dengan menjelaskan dua jenis risiko investasi di pasar saham: risiko unik (unique risk) yang bersifat spesifik per perusahaan, dan risiko sistemik (systemic risk) yang menjangkiti seluruh pasar tanpa terkecuali.

“Yang sekarang kita hadapi dengan adanya oil shock ini adalah systemic risk. Kalau systemic risk, market jebol. Semua saham, sebagus apa pun fundamentalnya, kena juga. Indeks jatuh 200 poin, saham terbaik pun ikut terlempar.”

Dalam kondisi seperti ini, Ferry secara tegas merekomendasikan satu instrumen: reksa dana pasar uang (money market). Alasannya sederhana, dana yang terhimpun ditempatkan di instrumen perbankan jangka pendek yang relatif terlindungi dari volatilitas pasar obligasi maupun saham.

“Jangan main reksa dana fixed income atau saham. Kalau fixed income, saat yield obligasi naik, harga obligasinya turun, NAB-nya pun ikut turun. Saham masih sangat berisiko. Main reksa dana money market. Risikonya paling kecil.”

Satu paradoks menarik yang Ferry soroti: justru di tengah kontraksi ekonomi formal, sektor informal cenderung berkembang. Mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja dari perusahaan-perusahaan formal terpaksa beralih ke pekerjaan informal untuk bertahan hidup.

Dalam konteks ini, Ferry menyebut platform ride-hailing seperti Gojek dan Grab sebagai contoh bisnis yang secara logika akan menikmati lonjakan pengguna, baik dari sisi pengemudi yang bertambah, maupun penumpang yang beralih dari kendaraan pribadi karena kesulitan mendapatkan bahan bakar.

“Ekonomi pada saat menderita, yang akan flourishing adalah sektor informal. Kalau saya biasa ke kantor naik mobil, dengan susahnya antre bensin, why not panggil Gojek? Lebih irit, lebih cepat. Armadanya akan makin besar, volume-nya naik.”

Namun Ferry segera menambahkan peringatan penting: dalam kondisi systemic risk yang sedang terjadi sekarang, bahkan saham-saham dengan prospek fundamental terbaik pun tetap tertekan oleh arus jual pasar. Ia menekankan bahwa seluruh pendapatnya bersifat analisis wacana, bukan rekomendasi investasi.

Bagi masyarakat umum yang bukan pelaku pasar modal, Ferry menyampaikan satu pesan sederhana: masuk ke “survival mode”. Belanjakan uang hanya untuk kebutuhan pokok, tahan pengeluaran yang tidak mendesak, dan prioritaskan tabungan.

“Kita harus pandai spending dengan budget yang terbatas. Jangan spending seenak-enaknya, karena pressure ini akan berlangsung lama. Saving menjadi prioritas utama di kala ekonomi tidak pasti.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Diplomasi Prabowo Selamatkan Energi Indonesia

26 Mei 2026 - 20:19 WIB

Oligarki Keruk Rp15.000 T, Wajar Prabowo Tutup Keran Ekspor Bebas

26 Mei 2026 - 16:24 WIB

Harga DMO Batu Bara tak Berubah 10 Tahun Hambat Transisi Energi

26 Mei 2026 - 06:32 WIB

Populer ENERGI