INAnews.co.id, Jakarta– Indonesia tidak perlu meniru Korea Selatan secara mentah-mentah dalam membangun ekonomi berbasis budaya. Sebaliknya, Indonesia justru harus memanfaatkan keunggulan sosialnya sendiri, yakni kultur komunal dan multigenerasi, sebagai fondasi pengembangan industri kreatif yang otentik dan inklusif.
Sia Nawir mengingatkan bahwa struktur masyarakat Indonesia masih sangat berbeda dengan Korea. Ikatan keluarga yang kuat, kebiasaan berkumpul, dan safety net informal berbasis komunitas adalah modal sosial yang unik dan belum tenpa dimiliki negara-negara maju. “Kalau Korea bisa memonetisasi individualisme, kita bisa memonetisasi kebersamaan,” ujarnya di kanal YouTube INDEF.
Ia mendorong pemerintah untuk mengembangkan kebijakan industri yang sesuai dengan DNA sosial Indonesia: memonetisasi pengalaman berbasis komunitas, pariwisata partisipatif, wellness, dan spiritualitas. Yang terpenting, ekonomi berbasis budaya harus bersifat inklusif, bukan menjadi komoditas eksklusif kelas menengah atas, dan pemerintah harus memastikannya menjadi bagian dari pembangunan jangka panjang yang menyejahterakan seluruh lapisan masyarakat.






