Menu

Mode Gelap
Kadin: Dunia Usaha “Bertahan Saja Sudah Cukup” di Tengah Tekanan Global Direktur INDEF: Ketahanan Ekonomi RI Masih Rentan Bahlil Tegaskan BBM Subsidi tak Naik, Andalkan Royalti Tambang Buzzer Disebut Pakar sebagai “Ideological State Apparatus” Era Digital Machu Picchu dan Ribuan Spesies Kentang, Pesona Peru yang Tak Terduga UU ITE Dibuat untuk Ekonomi Digital, Bukan Alat Bungkam Kritik

ENERGI

Penyebab Produsen Batu Bara Banyak Merugi

badge-check


					Foto: Ardhi Ishak Koesen Perbesar

Foto: Ardhi Ishak Koesen

INAnews.co.id, Jakarta– Kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara dengan harga 70 dolar AS per ton yang ditetapkan pemerintah sejak 2018 dinilai memberatkan kalangan produsen. Pasalnya, harga tersebut tidak pernah direvisi meski biaya operasional penambangan terus melonjak dalam satu dekade terakhir.

Hal itu disampaikan Ketua Bidang Hubungan Industri dan Asosiasi Industri Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI), Ardhi Ishak Koesen, dalam diskusi publik bertema “Navigasi Ketahanan Energi Nasional di Tengah Dinamika Geopolitik”, Senin (25/5/2026), di Hotel 88 Fatmawati, Jakarta Selatan.

“Harga bahan bakar saja tahun 2018 dibandingkan sekarang bisa dua bahkan tiga kali lipat. Dari situ kita lihat bahwa sebenarnya banyak perusahaan yang merasa rugi dalam menyuplai batu bara untuk porsi DMO,” ujar Ardhi.

Meski demikian, ia mengakui kebijakan tersebut menguntungkan dari sisi negara karena harga listrik berbasis batu bara tetap terjangkau bagi masyarakat. Saat ini, sekitar 59 gigawatt atau hampir 60 persen kapasitas pembangkit listrik nasional masih bertumpu pada batu bara.

Ardhi turut menyoroti lemahnya kepastian regulasi sebagai penghambat investasi energi, termasuk belum rampungnya undang-undang energi terbarukan. Menurutnya, kebijakan yang berubah-ubah setiap tahun membuat investor enggan masuk.

“Kita belum punya undang-undang energi terbarukan. Kalau kebijakannya berubah setiap tahun, orang yang mau investasi juga takut,” tegasnya.

Di sisi lain, ia menilai krisis ketergantungan impor BBM justru bisa menjadi momentum mempercepat transisi menuju kendaraan listrik dan sumber energi domestik yang lebih mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Pemadaman Listrik, YLKI Siap Gugat PLN, Energi Itu Hak Dasar, Bukan Bisnis

21 Juni 2026 - 21:24 WIB

CBA Sebut Kebijakan Bahlil Berpotensi Ganggu Pasokan Batu Bara PLN

19 Juni 2026 - 23:18 WIB

Subsidi BBM Masih Dinikmati Orang Kaya

18 Juni 2026 - 11:43 WIB

Populer ENERGI