INAnews.co.id, Jakarta– Dari Nanning, ibu kota Provinsi Guangxi, Tiongkok Selatan, mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan menyampaikan pesan yang tajam: ketika rupiah melemah, petani sawit Indonesia seharusnya menikmati berkah ekspor seperti petani kakao di 1998 tetapi kebijakan baru pemerintah justru membuat mereka menjadi korban.
Dalam rekaman video yang diputar di forum Indonesia Leaders Talk (ILT), Sabtu (30/5/2026), Dahlan menceritakan seorang kenalannya yang memiliki kebun sawit 10 hektare. Petani itu mengeluh karena pembeli tidak lagi mau mengambil sawitnya akibat ketidakjelasan aturan ekspor, apakah harus melalui Danantara atau tidak. Akibatnya, harga tandan buah segar di tingkat petani anjlok dari Rp3.400 menjadi Rp2.400 per kilogram.
“Di saat rupiah melemah, harusnya sebagian petani kita itu happy seperti tahun ’98. Tetapi karena bersamaan dengan kebijakan baru ini, mereka tidak bisa menikmati melemahnya rupiah itu,” kata Dahlan.
Sebaliknya, Dahlan menawarkan optimisme berbasis sektor riil: Indonesia harus menggenjot ekspor buah tropis ke Tiongkok. Ia mengisahkan pengalamannya di pasar induk Tiongkok yang dipenuhi lautan buah tropis, namun manggis asal Indonesia hanya ditemukan satu keranjang kecil. “Pasar manggis di Tiongkok luar biasa besar. Tapi kita tidak hadir,” ujarnya.
Dahlan juga menekankan bahwa bagi pelaku usaha, yang paling penting bukan seberapa kuat atau lemah rupiah, melainkan stabilitasnya. “Melemah menjadi 18.000 pun oke, yang penting stabil dan bisa diprediksi. Kalau tiap hari berubah, orang tidak bisa kalkulasi investasi dan ekonomi bisa mandek,” tegasnya.






