INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom senior Yanuar Rizky menyebut pelemahan rupiah saat ini bukan lagi sekadar persoalan fundamental ekonomi, melainkan sudah memasuki tahap krisis kepercayaan. Hal itu ia sampaikan dalam wawancara di kanal YouTube Abraham Samad SPK yang diunggah Selasa (2/6/2026).
“US Dollar indeks melemah, Vietnam dong menguat, Malaysia ringgit menguat, Singapura dolar menguat. Rupiah kita tetap melemah,” kata Yanuar.
Ia menilai kondisi ini berbeda dari tekanan nilai tukar pada umumnya yang dipicu faktor eksternal. Ketika dolar Amerika Serikat justru sedang melemah secara global namun rupiah tetap tertekan, Yanuar menegaskan bahwa akar masalahnya ada di dalam negeri: masyarakat domestik sudah tidak percaya pada rupiahnya sendiri.
Buktinya, menurut data neraca pembayaran Bank Indonesia, modal penduduk konsisten keluar sejak 2016. Yang lebih mengkhawatirkan, pada Triwulan I 2026, modal asing pun enggan masuk bersamaan dengan keluarnya modal penduduk yang semakin deras. Ini berbeda dari pola sebelumnya di mana modal asing masih mengimbangi keluarnya modal domestik.
Yanuar menyebut BI turut bersalah karena dinilai tidak independen dan gagal melangkah di depan kurva dengan menaikkan suku bunga untuk membangun kembali kepercayaan pasar.






