Menu

Mode Gelap
Tips Jaga Kesehatan di Musim Hujan di Kota Semarang Menjaga Kesehatan di Musim Hujan: Tips Sehat di Tengah Ancaman Banjir Oknum Anggota TNI AL Terlibat Perkelahian di Talaud, Lanal Minta Maaf, Proses Hukum Berlanjut Ekspor Indonesia Masih Terjebak di Komoditas Mentah, Daya Saing Terancam Kedaulatan Rakyat Harus Dikembalikan Indonesia Pilih Perdamaian, Ingin Jadi Teman Semua dan Musuh tak Seorang Pun

DAERAH

Membangun Maros yang Tangguh: Upaya Pencegahan Banjir dari Hulu hingga Hilir

badge-check


					Foto: dok. ist Perbesar

Foto: dok. ist

INAnews.co.id, Jakarta– Wilayah Maros, yang dikenal dengan keindahan karst Rammang-Rammang dan aliran sungai-sungai yang membelah permukiman, menyimpan pesona alam sekaligus tantangan tersendiri. Saat musim hujan tiba, beberapa kecamatan di Maros sering menghadapi ancaman banjir akibat curah hujan tinggi, kapasitas drainase yang terbatas, dan perubahan tata guna lahan. Kondisi geografis Maros yang memiliki daerah perbukitan serta dataran rendah menjadikannya wilayah yang harus menerapkan strategi pencegahan banjir yang terpadu.

Untuk menciptakan Maros yang lebih aman dan tangguh, berbagai langkah pencegahan banjir perlu dilakukan secara kolaboratif, melibatkan pemerintah, masyarakat, dan sektorswasta.

1. Rehabilitasi Hutan dan Daerah Tangkapan Air

Banjir di Maros tidak terlepas dari kondisi hulu sungai dan kawasan karst yang rentan terhadap kerusakan lingkungan. Penebangan liar, konversi lahan, dan aktivitas pertambangan dapat mempercepat aliran permukaan dan mengurangi kemampuan tanah menyerap air.

Langkah penting yang harus dilakukan:

Reboisasi dan penghijauan di kawasan hulu dan lereng bukit.

Perlindungan kawasan karst Rammang-Rammang, karena batuan karst merupakan penyimpan air alami.

• Penegakan hukum terhadap perusakan hutan dan aktivitas tambang ilegal.

Dengan menjaga hutan, kita menjaga “spons alam” yang menahan air sebelum mencapai wilayah rendah.

2. Normalisasi Sungai dan Pembersihan Saluran

Sungai Maros, Sungai Bantimurung, serta anak-anak sungainya memerlukan pemeliharaan rutin. Sedimentasi, sampah rumah tangga, dan penyempitan bantaran membuat aliran air melambat—yang pada akhirnya memicu banjir saat debit meningkat.

Upaya mitigasi:

Normalisasi sungai secara berkala.

Pembersihan drainase dan gorong-gorong di wilayah perkotaan.

• Pembentukan satgas sungai berbasis masyarakat untuk menjaga kebersihan aliran air.

3. Penataan Permukiman di Daerah Rawan Banjir

Pertumbuhan penduduk Maros memicu pembangunan rumah di sempadan sungai dan daerah rendah. Tanpa perencanaan yang baik, risiko banjir meningkat setiap tahun.

Strategi penataan:

• Penertiban bangunan di zona merah banjir.

• Penyediaan rumah relokasi bagi warga yang tinggal di bantaran sungai.

• Pengembangan kawasan dengan konsep drainase berwawasan lingkungan (eco-drainage).

4. Pembangunan Infrastruktur Pengendali Banjir

Beberapa teknologi dan infrastruktur dapat menjadi benteng pertahanan terhadap banjir:

Kolam retensi untuk menampung air berlebih saat hujanderas.

Sumur resapan di kawasan permukiman dan fasilitaspublik.

Tanggul dan pintu air di daerah yang sering terendam.

• Penggunaan paving block agar air mudah meresap ke tanah.

Jika diterapkan secara luas, infrastruktur ini mampu mengurangi limpasan air hingga 30–40 persen.

5. Edukasi dan Gerakan Masyarakat Siaga Banjir

Pencegahan banjir bukan hanya tugas pemerintah. Masyarakat Maros memiliki peran besar untuk menjaga lingkungan sekitar.

Bentuk partisipasi yang bisa dilakukan:

• Tidak membuang sampah ke sungai dan selokan.

• Menanam pohon di pekarangan rumah.

• Membersihkan selokan secara rutin melalui gotong royong.

• Mengikuti pelatihan kesiapsiagaan bencana dari BPBD dan relawan.

Kesadaran kolektif adalah kunci untuk menciptakan lingkunganyang aman dan berkelanjutan.

6. Penguatan Data dan Sistem Peringatan Dini

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sertaBPBD Maros perlu memperkuat sistem informasi cuaca, pemantauan debit sungai, dan penyebaran informasi darurat.

Inovasi yang bisa diterapkan:

Pemasangan alat pendeteksi tinggi muka air di sungai utama.

• Penyebaran informasi via SMS blast, media sosial, dan aplikasi pengendali banjir.

• Pemutakhiran peta rawan banjir sebagai acuan perencanaan pembangunan.

Menuju Maros yang Lebih Aman dan Berkelanjutan

Pencegahan banjir di Maros adalah perjalanan panjang yang memerlukan kolaborasi lintas sektor. Mengembalikan fungsihutan, menata ruang, membangun infrastruktur hijau, hingga meningkatkan kesadaran masyarakat adalah fondasi utama dalam menjaga wilayah ini dari risiko bencana.

Dengan komitmen bersama, Maros bukan hanya mampu mengurangi ancaman banjir tetapi juga membangun masa depan yang lebih aman, nyaman, dan ramah lingkungan bagi generasi berikutnya. Seputar lingkungan bisa akses: DLH Maros.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Tips Jaga Kesehatan di Musim Hujan di Kota Semarang

24 Januari 2026 - 21:00 WIB

Kerawanan Pangan Papua Tetap Tinggi, Kemiskinan Jadi Faktor Utama

23 Januari 2026 - 18:25 WIB

Morowali Jadi Simbol Penyerahan Lima Kedaulatan Sekaligus ke China

23 Januari 2026 - 16:09 WIB

Populer DAERAH