INAnews.co.id, Jakarta– Pengamat politik internasional Pitan Daslani menyebut Iran sebagai “pelari maraton”, berbeda dengan AS yang ia ibaratkan sebagai sprinter. Ketahanan Iran ia sandingkan pada dua faktor utama. Pertama, sistem pertahanan mosaik (mosaic defense): kekuatan militer yang terdesentralisasi, sehingga menghancurkan satu unit tidak melumpuhkan keseluruhan sistem.
“Seperti kepala ular diremukkan, tapi badannya masih hidup,” kata Pitan di kanal YouTube-nya Helmy Yahya, Jumat.
Kedua, ketahanan budaya. Para demonstran yang semula anti-pemerintah berbalik mendukung rezim setelah menyaksikan kota-kota mereka hancur akibat serangan AS dan Israel — bukan akibat kebijakan pemerintah. “Mereka jadi sadar, ternyata kita dihancurkan oleh Amerika dan Israel,” tuturnya.
Pernyataan Pemimpin Tertinggi Iran Mujtaba Khamenei yang menyebut kemungkinan penggunaan kekuatan nuklir jika tiga ultimatum Iran tidak dipenuhi mengejutkan banyak pihak. Hal itu memperkuat indikasi bahwa Iran mungkin telah memiliki senjata nuklir. Sementara itu, jangkauan rudal Iran yang selama ini diyakini hanya 1.900 km ternyata bisa mencapai 4.200 km, cukup untuk menjangkau Pangkalan Diego Garcia tempat pesawat pembom B-52 AS beroperasi.
Ancaman lain datang dari potensi penutupan Selat Babel Mandeb di Laut Merah, yang secara harfiah berarti “gerbang air mata.” Jika selat ini ditutup, jalur Terusan Suez pun akan lumpuh, memaksa seluruh pelayaran dunia memutar melewati Afrika.
Pitan mengingatkan Indonesia bahwa cadangan energi nasional saat ini hanya cukup untuk 20–22 hari, dan sebagian besar masih berada di lautan dalam perjalanan menuju Indonesia. Ia meminta pemerintah menyampaikan pembaruan situasi perang secara rutin kepada publik agar tidak menimbulkan kepanikan, dan segera melakukan diversifikasi pasokan energi seperti yang sudah dirintis lewat kunjungan Presiden ke Moskow.
Ia juga mendorong Indonesia memanfaatkan posisi strategisnya sebagai pemilik selat-selat utama dunia, Selat Malaka, Selat Makassar, dan lainnya, yang dilalui ribuan kapal setiap harinya. Namun, pemanfaatan itu harus dilandasi undang-undang agar tidak bisa digugat oleh negara mana pun.
“Politik luar negeri kita secara konstitusional diabdikan kepada kepentingan nasional Indonesia. Ke mana kepentingan nasional mengarahkan kita, ke situlah politik luar negeri bermain,” pungkas Pitan. Ia mengajak Indonesia untuk bersikap lebih proaktif dan asertif: masuk duluan ke mana ada peluang, dan waspada sebelum ancaman datang.






