Ganjil Genap di Jakarta, Apakah Efektif Kurangi Polusi Udara
- account_circle S Edy
- calendar_month Jumat, 13 Sep 2019
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sudah menandatangani Peraturan Gubernur (Pergub) tentang perluasan sistem ganjil-genap.
Aturan ini, diterapkan mulai 9 September lalu dan segera diberlakukan di 25 ruas jalan DKI Jakarta. Apa yang di harapkan dan tujuan Pemprov DKI memperluas area Ganjil – Genap.
“ Polusi udara di Jakarta yang semakin parah bagi kesehatan warga Jakarta, itu harus segera di atasi “ Ini karena kemacetan Jakarta yang tak kunjung berkurang menyebab kan asap kendaraan di Jakarta memenuhi udara ibukota Jakarta.

Lalu setelah tiga hari masa pemberlakuan perluasan Ganjil – Genap ini diterapkan , apakah sudah bisa diketahui dampaknya terhadap perbaikan kualitas udara di DKI Jakarta?
“Tentu saja hasil dari kebijakan perluasan ini belum bisa dievaluasi langsung ya. Karena perlu waktu untuk dapat melihat dampaknya, perlu pengukuran dan pengambilan data secara komperhensif. Dengan perbandingan 3 bulan sebelum pelaksanaan dan 3 bulan saat dilaksanakan nanti baru akan kelihatan, Baru bisa disimpulkan apakah efektif dari kebijakan perluasan ganjil-genap tadi,” ungkap Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin, di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (12/9/2019)
Meskipun masih sangat terlalu dini untuk mengambil kesimpulan dari dampak perluasan ganjil-genap terhadap perbaikan kualitas udara DKI Jakarta.
Akan tetapi dari pengamatan di situs AirVisual, terlihat peringkat Indonesia terus turun. Pada hari Kamis (12/9/2019) terdapat data bahwa kualitas udara di Jakarta sempat menyentuh peringkat 4, pada pukul 12.02 WIB.
Menurut Safrudin yang biasa di sapa puput, Dampak perluasan area ganjil-genap akan bisa efektif menurunkan tingkat pencemaran udara di DKI Jakarta.
“Prediksi saya, tingkat polusi udara di Jakarta bisa turun 28 sampai 46 persen dengan adanya perluasan ganjil-genap ini,” jelasnya di sela sela acara ketika menggelar Workshop: Soot-free Urban Bus Fleet in Asia, di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (12/9).
Puput mengungkapkan bahwa sepeda motor penyumbang emisi tertinggi dengan presentase 44,53 persen, kendaraan pribadi 16 persen, serta bus sebesar 21 persen.
“Tapi yakinlah pasti pencemaran udara akan turun dengan sistem perluasan ganjil-genap di ibukota, yang penting konsisten saja dijalankan. Menurut perhitungan kami pencemaran udara bisa turun,” pungkasnya
Kembali Safrudin menegaskan agar pemerintah khususnya Pemprov DKI Jakarta harus terus konsisten dalam menerapkan program kebijakan ini. Sebab, kebijakan ini menawarkan dampak yang besar terhadap perbaikan kualitas udara di Jakarta yang tentunya warga Jakarta akan menghirup udara yang lebih baik dan tentu saja akan turut pula memperbaiki kesehatan warga Jakarta.
- Penulis: S Edy

Saat ini belum ada komentar