News Feed
light_mode
Trending Tags

Prabowo Ajak BRICS Ubah Kerentanan Jadi Kekuatan Ekonomi

  • account_circle Robi
  • calendar_month 23 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

INAnews.co.id, New Delhi, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan pentingnya sinergi antarnegara anggota BRICS untuk mengubah kerentanan menjadi peluang ekonomi, dalam pidatonya pada sesi terbuka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-18 BRICS di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Ahad (13/9/2026).

Di hadapan Perdana Menteri India Narendra Modi beserta para pemimpin negara anggota dan delegasi BRICS lainnya, Prabowo lebih dulu menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan KTT tersebut.

“Izinkan saya sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada Perdana Menteri Modi dan pemerintah India atas penyelenggaraan KTT yang sangat baik ini,” ujar Prabowo.

Empat Pilar untuk Satu Tujuan

Presiden RI menyoroti empat gagasan utama yang menjadi tema KTT tahun ini, yakni ketahanan (resilience), inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Menurutnya, keempat pilar itu harus mengarah pada satu tujuan bersama.

“Keempat gagasan ini harus melayani satu tujuan, yaitu membangun perekonomian yang lebih kuat, lebih adil, dan mampu memberikan kemakmuran bagi rakyat kita,” kata Prabowo.

Ia menekankan bahwa ketahanan suatu negara harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, dan hal itu hanya bisa dicapai jika negara mampu mengubah kerentanannya menjadi peluang serta kelemahannya menjadi kekuatan.

Indonesia dan Tantangan Ring of Fire

Prabowo memaparkan kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di kawasan cincin api paling aktif di dunia, sehingga setiap hari dihadapkan pada ancaman kenaikan permukaan air laut, cuaca ekstrem, dan aktivitas gunung berapi.

Namun di sisi lain, ia menegaskan wilayah darat dan laut Indonesia menyimpan kekayaan yang dibutuhkan dunia di masa depan.

“Daratan dan lautan kita juga menyimpan banyak hal yang akan menjadi fondasi masa depan, yaitu mineral kritis, unsur tanah jarang, sumber daya terbarukan untuk teknologi bersih dan teknologi tinggi, serta hutan yang menjadi paru-paru dunia,” ujarnya.

Kondisi serupa, lanjut Prabowo, juga dimiliki negara-negara BRICS lainnya yang secara kolektif menguasai porsi signifikan dari mineral kritis dan sumber daya energi dunia.

Bencana Sebagai Momentum Pembangunan

Presiden Prabowo mengingatkan agar setiap bencana yang menimpa negara anggota tidak hanya dipandang sebagai musibah semata, melainkan dikaitkan dengan pembangunan nasional jangka panjang.

“Itulah sebabnya ketika bencana melanda, kita harus melihatnya sebagai lebih dari sekadar bencana. Kita harus melihat keterkaitan erat antara ketahanan terhadap perubahan iklim dan pembangunan nasional,” tegasnya.

Ia menambahkan, Indonesia tidak sendirian menghadapi persoalan ini karena negara-negara BRICS lain dan negara-negara Selatan Global (Global South) menghadapi tantangan serupa yang saling berkaitan.

Satukan Kekuatan, Ciptakan Peluang

Menurut Prabowo, jika seluruh tantangan tersebut dihadapi secara kolektif, negara-negara BRICS sesungguhnya memiliki sumber daya, kapasitas produksi, kemampuan teknologi, dan pasar dalam jumlah sangat besar.

“Satukan semuanya, dan BRICS dapat memberikan perbedaan yang nyata dan penting bagi dunia,” kata Prabowo.

Ia mendorong agar langkah pertama yang diambil adalah mengakui nilai dari sumber daya yang dimiliki bersama untuk saling membantu, sehingga tantangan yang saling terkait dapat diubah menjadi peluang investasi, penguatan industri, serta lapangan kerja bagi rakyat.

Dari Pengimpor Jadi Pengekspor Beras

Presiden Prabowo turut membagikan pengalaman Indonesia yang dahulu menjadi salah satu pengimpor gandum, beras, dan jagung terbesar, namun kini telah bertransformasi menjadi negara pengekspor.

“Indonesia selama bertahun-tahun merupakan pengimpor gandum, beras, dan jagung terbesar. Sekarang kita menjadi pengekspor dan kita akan mampu meningkatkan dukungan bagi seluruh dunia,” ungkapnya.

Ia menilai pencapaian tersebut dapat menjadi contoh bahwa ekonomi hijau bisa menjadi peluang sekaligus memperkuat posisi negara berkembang dalam rantai nilai global.

Ajakan Industrialisasi Bersama

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menawarkan gagasan konkret berupa optimalisasi rantai pasok yang telah dimiliki BRICS.

“BRICS sudah menjadi sebuah rantai pasok. Tugas kita adalah menghubungkan dan mengoptimalkannya sehingga kekuatan yang sudah ada ini dapat menjadi sumber nilai yang lebih besar bagi kita semua,” katanya.

Ia pun mengajukan tawaran konkret kepada seluruh anggota BRICS.

“Izinkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Mari kita melakukan industrialisasi bersama dan mari kita mengoptimalkan sumber daya serta kapasitas yang kita miliki bersama,” ujar Prabowo.

Suara Global South untuk Agenda Pasca-2030

Presiden Prabowo mengingatkan bahwa tahun 2030 merupakan tenggat capaian Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) yang telah disepakati bersama, mencakup komitmen mengentaskan kemiskinan, melindungi bumi, dan membangun institusi yang lebih kuat.

Ia menegaskan komitmen tersebut harus tetap berlanjut meski tenggat waktu telah tercapai.

“Agenda 2030 tidak pernah sekadar soal mencapai tenggat waktu. Ini soal membawa negara-negara berkembang lebih dekat ke tempat yang seharusnya mereka tempati,” kata Prabowo.

Karena itu, menurutnya, suara Global South harus didengar bukan hanya dalam mempercepat implementasi Agenda 2030, tetapi juga dalam membentuk agenda pembangunan setelahnya. Ia menilai BRICS memiliki peran strategis untuk menyatukan dan memperkuat suara negara-negara Selatan Global tersebut.

Presiden Prabowo menutup pidatonya dengan menegaskan visi tentang masa depan yang ingin dibangun bersama.

“Masa depan di mana ketahanan melindungi pembangunan, di mana inovasi memperluas peluang, di mana kerja sama menghasilkan hasil yang konkret, dan di mana keberlanjutan berarti kemakmuran harus dihadirkan untuk hari ini dan generasi mendatang,” pungkasnya.

  • Penulis: Robi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Berita Rekomendasi

  • Apel Tiga Pilar Untuk Mentriger Satgas Gugus Tugas Covid-19 Agar Lebih Optimal, Ini Kata Danrem 162/WB

    Apel Tiga Pilar Untuk Mentriger Satgas Gugus Tugas Covid-19 Agar Lebih Optimal, Ini Kata Danrem 162/WB

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2020
    • account_circle Idrus Jalmonadi
    • 0Komentar

    INAnews.co.id, Mataram – Gubernur NTB, Dr. H. Zulkieflimansyah, bersama Danrem 162/WB, Brigjen TNI Ahmad Rizal Ramdhani, S. Sos., S.H., M. Han dan Kapolda NTB, Irjen. Pol. Muhammad Iqbal memimpin Apel Tiga Pilar dalam rangka melawan Covid-19 di NTB, khususnya di Kota Mataram dan Lombok Barat, bertempat di Lapangan Bumi Gora Kantor Gubernur NTB Kota Mataram, […]

  • Rupiah Tembus 15 Ribu, Seperti Era Krisis Moneter

    Rupiah Tembus 15 Ribu, Seperti Era Krisis Moneter

    • calendar_month Selasa, 2 Okt 2018
    • account_circle Redaksi
    • 0Komentar

    INAnews.co.id – Pada hari ini, Selasa (2/10/2018), US$ 1 berada di level Rp 15.040/US$. Rupiah melemah 0,91% dibandingkan penutupan pada perdagangan hari sebelumnya, Senin (1/10/2018).

  • Budaya tak Habis Diproduksi, Nilainya Terus Berlipat

    Budaya tak Habis Diproduksi, Nilainya Terus Berlipat

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle Robi
    • 0Komentar

    INAnews.co.id, Jakarta– Berbeda dari komoditas mentah seperti sawit atau batu bara yang terbatas secara geografis dan logistik, produk budaya dapat direproduksi tanpa batas dan terus meningkatkan nilai tambahnya. Inilah keunggulan fundamental ekonomi berbasis budaya yang membuat Korea Selatan mampu bersaing di panggung global. Sia Nawir (INDEF) menekankan bahwa budaya tidak mengenal batasan geografis dan tidak […]

  • Harlah NU, LaNyalla Berharap Wujudkan Mabadi Khairah Ummah

    Harlah NU, LaNyalla Berharap Wujudkan Mabadi Khairah Ummah

    • calendar_month Rabu, 31 Jan 2024
    • account_circle S Edy
    • 0Komentar

    INAnews.co.id,  Jakarta  –  Peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke-101 diharapkan menjadi momentum untuk merenungkan kembali peran penting NU dalam perjuangan kemerdekaan dan perumusan Azas dan Sistem bernegara Indonesia melalui falsafah Pancasila. Demikian disampaikan Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, Rabu (31/1/2024) di Jakarta. Dikatakan LaNyalla, apalagi jika kita meresapi apa yang disampaikan Almarhum […]

  • Rayakan Momen Lebaran Penuh Harmoni: Manzone & Minimal Luncurkan Koleksi Sarimbit Eksklusif Bersama Rezky Aditya dan Citra Kirana

    Rayakan Momen Lebaran Penuh Harmoni: Manzone & Minimal Luncurkan Koleksi Sarimbit Eksklusif Bersama Rezky Aditya dan Citra Kirana

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Syubhan Akib
    • 0Komentar

    Jakarta, INAnews – Menyambut bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri tahun ini, Manzone & Minimal dengan bangga mempersembahkan koleksi Sarimbit Raya terbaru yang memukau, menampilkan pasangan selebriti ternama Indonesia, Rezky Aditya dan Citra Kirana, sebagai muse. Koleksi ini menghadirkan 6 gaya untuk pasangan dewasa dan anak-anak dengan desain dan motif berbeda, menciptakan tampilan […]

  • Subsidi B50 untuk Nelayan di Atas 30 Ton Disiapkan dari Dana BPDPKS

    Subsidi B50 untuk Nelayan di Atas 30 Ton Disiapkan dari Dana BPDPKS

    • calendar_month Jumat, 10 Jul 2026
    • account_circle Robi
    • 0Komentar

    INAnews.co.id, Karawang– Pemerintah akan menggunakan sebagian dana surplus Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) untuk menurunkan harga bahan bakar B50 bagi nelayan dengan kapal berbobot di atas 30 ton, tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, tiga bulan terakhir dana BPDPKS mengalami surplus karena harga bahan bakar nabati […]

expand_less