Fungsi dan Peran Ilmu Forensik dalam Penegakan Hukum di Indonesia

3.373

INAnews.co.id, Jakarta – Gerai Hukum berpendapat bahwa,dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, permasalahan hukum yang terjadi juga semakin tinggi.

Hal tersebut menyebabkan pola pikir atau tingkah laku masyarakat menjadi semakin kompleks dan semakin menyimpang dari norma-norma yang berlaku di dalam masyarakat.

Tingkah laku tersebut yang memicu terjadinya kejahatan, dari sudut pandang sosiologis kejahatan merupakan perbuatan atau tingkah laku yang selain merugikan penderita juga merugikan masyarakat yaitu berupa hilangnya keseimbangan, ketentraman, dan ketertiban.

“Di Indonesia tindak kejahatan semakin sering terjadi, baik kejahatan konvensional maupun kejahatan digital (Cybercrime),” ucap Arthur Noija Ketua Gerai Hukum kepada INAnews pada Rabu 26 mei 2021.

Menyinggung soal laporan wartawan INAnews di Polres Bitung pada 22 mei 2021,tentang bullying di media sosial Arthur menyikapi jika untuk kejahatan konvesional berupa pembunuhan, pencurian, penganiayaan, dan perampokan.

“Sedangkan cybercrime berupa carding, phising, pemalsuan data, penyebaran berita bohong atau Hoax,”pungkasnya.

“Setiap tindak pidana yang terjadi akan dilakukan pemeriksaan untuk mencari kebenaran materiil dan kebenaran selengkap-lengkapnya,” lanjutnya.

Didalam hal ini, penegak hukum bertugas untuk mencari bukti-bukti yang sah untuk mengungkap sebuah tindak pidana.

Tahapan proses pemeriksaan tindak pidana yaitu penyidikan, penuntutan, dan persidangan.
Tahapan yang penting dalam pengungkapan suatu tindak pidana yaitu pembuktian, karena proses tersebut akan menentukan seseorang bersalah atau bebas.

Menurut Arthur jelas, pada Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 Pasal 6 ayat (2) berbunyi. Tiada seorang juapun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila Pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut Undang-undang, mendapat keyakinan, bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggung-jawab, telah bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya.

Dalam pasal 183 KUHAP yang menyatakan bahwa hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangya dua alat bukti yang sah Ia mendapatkan keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya.

Berdasarkan pasal 184 KUHAP ada 5 alat bukti yang sah di mata hukum yaitu, keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.

Dijelaskan Arthur, proses pemeriksaan dalam mengungkap suatu tindak kejahatan membutuhkan pendekatan ilmiah. Adanya pendekatan ilmiah, penegak hukum tidak hanya bergantung pada keterangan saksi hidup atau tersangka dalam penyelidikan suatu tindak pidana.

Contohnya , pendekatan ilmiah yaitu ilmu forensik. Ketika kita mendengar istilah forensik, yang terpikirkan pertama kali yaitu tentang bedah mayat, autopsi, kematian, dan lainnya.

“Hal tersebut termasuk salah satu cabang ilmu forensik yaitu ilmu kedokteran forensik,” ucap Arthur

Selain itu, ilmu forensik terdiri dari ilmu biologi forensik, kimia forensik, fisika forensik, entomologi forensik, balistik, metalurgi forensik, toksikologi forensik, kriminalistik, odontologi forensik, antropologi forensik, psikiatri forensik, psikologi forensik, patofisologi forensik, dan digital forensik.

Secara umum ilmu forensik merupakan ilmu untuk melakukan pemeriksaan dan pengumpulan bukti-bukti fisik yang ditemukan di tempat kejadian perkara dan kemudian dihadirkan di dalam sidang pengadilan.

“Peran dari ahli forensik dalam proses peradilan yaitu pemeriksaan di tempat kejadian perkara. Hal tersebut ini biasanya terjadi pada kasus yang besar.
Seorang ahli forensik hanya datang ke tempat kejadian perkara atas permintaan pihak yang berwajib,” ungkap Arthur.

Contohnya , terdapat kasus pesawat jatuh, dimana tidak ada korban selamat. Sebagian besar tubuh dari korban pesawat jatuh hancur, sehingga perlu dilakukan identifikasi korban.

Menurut Arthur , yang juga Pembina dari Lembaga Pengamat Kebijakan Publik LPN (Lembaga Peduli Nusantara) ,”disinilah peran seorang ahli forensik bekerja. Pada proses identifikasi, ahli odontologi forensik memeriksa gigi untuk identifikasi korban, ahli antropologi forensik mengidentifikasi korban berdasarkan tulang yang ditemukan”.

Sedangkan pada kasus pembunuhan, pemeriksaan oleh ahli forensik khususnya kedokteran forensik akan sangat penting dalam hal menentukan jenis kematian dan untuk mengetahui sebab-sebab dari kematiannya, waktu kematian, dimana hal tersebut sangat berguna bagi pihak yang berwajib untuk menentukan tersangka dan menjatuhkan hukuman.

Selain bekerja di tempat kejadian perkara seorang ahli forensik juga bekerja di laboratorium forensik.

Di Indonesia laboratorium forensik hanya ada di lingkungan polda, dan setiap polda yang ada tidak semuanya memiliki laboratorium forensik. Laboratorium forensik merupakan tempat untuk menganalisis barang bukti.

Contohnya, pada kasus penyalahgunaan narkoba, penentuan jenis narkoba dan positif tidaknya seorang mengonsumsi narkoba bisa dilakukan di TKP atau di labfor.

“Pada kasus yang lain, misalnya kasus pemerkosaan, kasus pembunuhan dengan senjata api, kasus uang palsu, kasus kebakaran, kasus penganiayaan, kasus pembunuhan menggunakan racun, dan lainnya,” jelasnya kembali.

Ilmu forensik sangat membantu aparat penegak hukum untuk mengungkapkan suatu tindak pidana yang terjadi mulai dari tingkat penyidikan sampai pada tahap pengadilan terhadap kasus yang berhubungan dengan tubuh atau jiwa manusia sehingga membuat terang suatu tindak pidana yang terjadi.

Secara umum tahapan forensik yang biasa dilakukan meliputi pengumpulan (acquisition), perlindungan (preservation), analisa (analysis) dan presentasi (presentation).

“Ilmu forensik dalam pengungkapan kejahatan sangat diperlukan. Hal ini bertujuan untuk meminimalisir terjadinya salah vonis, salah tangkap, dan membantu kinerja penegak hukum dalam penetapan pelaku kejahatan,” tutup Arthur.

Baca Juga

Komentar Anda

Your email address will not be published.