Menu

Mode Gelap
Kerja Perempuan Sokong Ekonomi, tapi Tetap tak Diakui Komnas Perempuan Buka Ruang Kritis Nasib Buruh Perempuan Sharpen Your Knife: Rahasia “Ihsan” dalam Menyembelih agar Hewan tak Tertekan Presiden Prabowo Dorong Kampus Jadi Mitra Strategis Pemda Selesaikan Masalah Daerah Milad 5 Partai Ummat Hukuman Mati Bukan Solusi Utama Berantas Korupsi

NASIONAL

Keracunan Berulang dan MBG di Bulan Ramadan: Moratorium dan Evaluasi Total

badge-check


					Foto: dok. Kumparan Perbesar

Foto: dok. Kumparan

INAnews.co.id, Jakarta– Insiden keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terus berulang hampir setiap minggu membuat mantan Ketua KPK Abraham Samad dan Mi’ing Bagito mendesak pemerintah melakukan moratorium dan evaluasi menyeluruh terhadap program tersebut.

“Evaluasi total, moratorium dulu,” kata Abraham Samad dalam diskusi yang ditayangkan kanal YouTube Abraham Samad Speak Up, Selasa (17/2/2026).

Keduanya turut menyoroti kebijakan melanjutkan distribusi MBG selama bulan Ramadan, yang dinilai justru memperparah risiko keracunan. Mi’ing menjelaskan, makanan yang dimasak dini hari dan baru dimakan saat buka puasa melewati rentang waktu lebih dari 12 jam—jauh lebih lama dari kondisi normal yang sudah memicu kasus keracunan.

“Kalau jam 12 siang saja ada yang keracunan, ditambah lagi 6 jam atau 12 jam lagi sampai buka puasa, gimana?” ujar Mi’ing.

Keduanya menduga program tetap berjalan selama Ramadan bukan karena pertimbangan manfaat gizi, melainkan karena hitungan kontrak harian yang mengikat para pengelola dapur. “Karena bunyi kontraknya mau begitu. Hitungannya harian. Bukan lagi manfaatnya dipikirkan, tapi bagaimana orang yang berbisnis di situ tidak terhenti bisnisnya,” kata Mi’ing.

Sebagai solusi selama Ramadan, keduanya mengusulkan agar anggaran MBG dialihkan dalam bentuk uang tunai kepada orang tua murid. “Kasih duitnya aja. Ibunya akan cari yang bergizi juga, dan dibeli pada saat mau buka puasa—yang hangat,” ujar Abraham Samad.

Mereka juga mengkritik pernyataan BGN yang mengecilkan kasus keracunan dengan menyebut persentasenya sangat kecil. “Itu urusan nyawa manusia, enggak bisa dengan angka-angka,” tegas Mi’ing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Kekerasan terhadap Jurnalis Melonjak

4 Mei 2026 - 11:48 WIB

RI Terjepit di Antara AS dan Tiongkok

3 Mei 2026 - 21:56 WIB

Indonesia Tertinggal dari Vietnam dalam PDB Per Kapita

3 Mei 2026 - 17:12 WIB

Populer EKONOMI