Singgung “Kuasa Tak Abadi”, AHY Disebut Siap Ancang-Ancang ke 2029
- account_circle Robi
- calendar_month 4 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Adi Prayitno/tangkapan layar
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta- Pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dalam pidato politik di acara HUT ke-25 Partai Demokrat terus menjadi perbincangan publik. Dalam pidatonya, AHY menegaskan bahwa kekuasaan ada batasnya, tidak dimiliki satu orang, dan tidak berlangsung selamanya.
Pengamat politik Adi Prayitno, dalam unggahan di kanal YouTube pribadinya yang tayang Selasa (8/9/2026), menilai pernyataan tersebut memicu berbagai interpretasi politik, terutama dikaitkan dengan peluang AHY maju sebagai calon presiden atau calon wakil presiden pada Pemilu 2029.
“Yang membuat pernyataan itu menarik bukan hanya isinya, tapi bagaimana pernyataan itu langsung memicu tafsir soal poros Cikeas dan arah Demokrat ke 2029,” ujar Adi Prayitno.
Respons Lintas Partai
Menurut Adi, pernyataan AHY awalnya mendapat tanggapan yang relatif positif dari sejumlah politisi lintas partai. Politisi PDIP Andreas Hugo Pareira, misalnya, menyebut ucapan AHY sebagai hal yang normatif dan wajar dalam sistem demokrasi. Senada, politisi Golkar Ahmad Doli Kurnia menilai tidak ada yang perlu dipersoalkan dari pernyataan tersebut karena kekuasaan memang dibatasi konstitusi, termasuk masa jabatan presiden dan wakil presiden yang maksimal dua periode.
Namun, Adi Prayitno menyoroti bagian lain dari pernyataan Ahmad Doli Kurnia yang menyinggung kemungkinan munculnya “poros Cikeas”, istilah yang merujuk pada kekuatan politik Partai Demokrat dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ayah AHY.
“Doli membaca gestur politik ini sebagai sinyal munculnya poros Cikeas, yang kemungkinan besar akan resmi mengusung AHY di kontestasi 2029,” kata Adi menirukan analisis Doli.
Adi menambahkan bahwa isu ini semakin ramai lantaran bersamaan dengan kabar soal “poros Solo” yang disebut-sebut mulai dibangun oleh kelompok relawan Jokowi, Projo, di bawah Budi Arie.
Presidential Threshold Nol, Demokrat Otomatis Punya “Tiket”
Salah satu poin krusial yang digarisbawahi Adi Prayitno adalah putusan Mahkamah Konstitusi yang menghapus ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold. Menurutnya, dengan lolosnya Partai Demokrat ke parlemen, partai tersebut otomatis memiliki “tiket” untuk mengusung AHY sebagai calon presiden maupun calon wakil presiden pada 2029, tanpa perlu berkoalisi mengejar syarat ambang batas.
“Partai Demokrat yang sudah lolos ke parlemen otomatis punya boarding pass, tiket untuk mengusung AHY sebagai capres atau cawapres di 2029,” ujar Adi.
Yang masih menjadi tanda tanya, kata Adi, adalah skenario politik yang akan diambil Demokrat: apakah AHY akan maju sendiri berhadapan langsung dengan Presiden Prabowo Subianto, atau justru berupaya membentuk koalisi dan menjadi calon wakil presiden mendampingi Prabowo.
Tanggapan Politisi Gerindra Beda Nada
Adi Prayitno juga menyoroti dua respons dari internal Partai Gerindra yang terkesan berbeda nada. Juru bicara Gerindra, Bahtra Banong, disebut menghormati langkah Demokrat dan menegaskan bahwa mengusung AHY di 2029 merupakan hak politik yang sah.
“Kalaupun Partai Demokrat ingin mencalonkan AHY sebagai salah satu kontestan di 2029, itu bagian dari hak politik Demokrat yang harus dihormati,” kata Bahtra Banong, seperti dikutip Adi Prayitno.
Sementara itu, politisi Gerindra lain, Sugiat Santoso, menekankan agar para menteri di Kabinet Prabowo Subianto lebih fokus mengawal program-program prioritas pemerintah, bukan sibuk membicarakan kepentingan elektoral 2029.
Adi menilai kedua pernyataan itu seolah ingin menegaskan satu hal: bahwa Presiden Prabowo Subianto sejauh ini belum sama sekali berbicara soal kepentingan politik 2029 dan tetap fokus menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
Demokrat Bantah Tak Loyal
Merespons berbagai spekulasi tersebut, juru bicara Partai Demokrat, Herzaki, membantah tudingan bahwa partainya tidak loyal terhadap pemerintahan Prabowo Subianto. Herzaki menegaskan AHY dan Partai Demokrat tetap mendukung penuh program-program prioritas pemerintah, termasuk soal pemberantasan korupsi dan pencegahan kebocoran anggaran negara.
AHY Masih Kalah Survei, tapi Konsisten Muncul
Di akhir analisisnya, Adi Prayitno mengingatkan bahwa dalam sejumlah survei elektabilitas capres-cawapres, nama AHY memang masih berada di bawah sejumlah tokoh besar seperti Prabowo Subianto, Khofifah Indar Parawansa/KDM, dan Anies Baswedan. Meski demikian, AHY dinilai konsisten muncul sebagai salah satu figur potensial capres maupun cawapres di berbagai lembaga survei.
“Tinggal bagaimana peluang ini bisa dikapitalisasi oleh AHY dan Partai Demokrat untuk benar-benar menjadi salah satu kontestan di 2029,” pungkas Adi Prayitno.
Ia menutup analisisnya dengan menyebut publik kini tinggal menunggu apakah pernyataan AHY soal kekuasaan yang tidak boleh melekat pada satu orang benar-benar menjadi sinyal bahwa poros Cikeas, poros SBY dan Partai Demokrat, tengah merancang langkah AHY menuju kontestasi 2029.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar