Sukuk Hijau Diproyeksi Jadi Andalan PFI Indonesia
- account_circle Robi
- calendar_month 20 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Telisa Aulia Falianty/tangkapan layar
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Sukuk hijau berpeluang besar menjadi salah satu produk unggulan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFI) yang tengah dibangun pemerintah. Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Prof. Telisa Aulia Falianty, menilai rekam jejak sukuk hijau Indonesia yang telah diterbitkan sejak 2018 menjadi modal kuat untuk bersaing di pasar keuangan global.
“Green sukuk yang cukup sukses di dunia dan orang sudah mengenal Green Sukuk Indonesia,” kata Telisa dalam wawancara dengan INDEF, Jumat (11/9/2026).
Menurut Telisa, penerbitan sukuk hijau Indonesia beberapa kali mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribe, yang menandakan tingginya minat investor. Ia menyebut kepercayaan pasar terhadap instrumen tersebut relatif tinggi karena kejelasan akad syariah serta mekanisme berbagi risiko antara penerbit dan investor.
Namun ia mengingatkan, sekitar 60 persen penerbitan sukuk hijau global saat ini masih tercatat atau listing di Dubai. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi Indonesia untuk merebut sebagian pangsa pasar tersebut.
“Kita harus membedakan diri. Mungkin perbedaannya adalah lingkungan tropis kita, di mana kita cenderung lebih hijau,” ujar Telisa.
Ia menambahkan, kekuatan Indonesia terletak pada keragaman proyek hijau yang bisa ditawarkan ke investor, mulai dari energi baru terbarukan seperti angin, surya, dan panas bumi (geothermal), hingga proyek dekarbonisasi dan reboisasi hutan di berbagai daerah.
Undang-Undang PFI yang disahkan pada Juli 2026 juga secara eksplisit membuka opsi instrumen keuangan syariah, termasuk sukuk hijau dan bank emas (bullion bank), sebagai bagian dari ekosistem pusat keuangan baru tersebut.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar