PT DSI Bongkar Selisih Harga Ekspor CPO hingga 50 Persen
- account_circle Robi
- calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Prabowo Subianto di Sidang Kabinet/tangkapan layar
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Presiden Prabowo Subianto membeberkan temuan mengejutkan soal praktik dagang komoditas ekspor, khususnya kelapa sawit, yang menurutnya merugikan negara hingga separuh nilai sebenarnya. Ia mencontohkan harga jual CPO di dalam negeri sekitar Rp14.000 per kilogram, sementara harga di pasar Rotterdam mencapai Rp27.000.
“Siapa yang nikmati 13.000? Hampir 50 persen,” kata Prabowo di Sidang Kabinet Paripurna di Istana Merdeka, Senin (20/7/2026). “Jadi permainan seperti inilah yang menusuk hati kita.”
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mendirikan PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI) yang mulai beroperasi penuh pada 1 Juli 2026 sebagai instrumen ekspor satu pintu untuk komoditas strategis seperti nikel, sawit, batu bara, karet, dan emas.
Prabowo mengklaim dalam waktu satu bulan dua minggu beroperasi, PT DSI telah mengelola devisa lebih dari 10,5 miliar dolar AS, sementara selisih harga ekspor-domestik yang sebelumnya mencapai 40–45 persen kini nyaris menyatu. “Kita cabut semua izin mereka yang tidak mau patuh kepada hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.
Ia juga menyinggung lembaga pemeringkat internasional Standard and Poor’s yang menilai pembentukan PT DSI sebagai langkah tepat tanpa menurunkan outlook investasi Indonesia. Implementasi penuh sistem ini ditargetkan berjalan mulai 1 September 2026.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar