Perang Iran Berkepanjangan, APBN Indonesia Terancam Defisit Ratusan Triliun
- account_circle Robi
- calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: dok. ist
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono memperingatkan bahwa jika perang di Timur Tengah berkepanjangan, APBN Indonesia dapat mengalami defisit ratusan triliun rupiah akibat lonjakan harga minyak dunia yang jauh melampaui asumsi pemerintah.
“Kalau harga minyak tembus 100 dolar atau 150 dolar per barel, defisit kita ratusan triliun. APBN kita asumsinya hanya 70 dolar per barel,” kata SBY, saat diwawancarai di kanal YouTube pribadi yang tayang Selasa (3/3/2026).
SBY menjelaskan bahwa Selat Hormuz — yang kini berada di zona konflik — merupakan jalur 20 persen total pasokan energi global. Gangguan di jalur ini langsung memukul pasokan dan mendongkrak harga. Dalam dua hari pertama konflik, harga minyak mentah sudah naik sekitar 20 dolar per barel.
Persoalannya, Indonesia kini adalah net importer minyak. Produksi dalam negeri hanya sekitar 600.000 barel per hari, jauh di bawah kebutuhan nasional — turun drastis dari 1,5 juta barel per hari saat SBY menjabat sebagai Menteri ESDM. “Ketika harga naik, maka negara harus mengeluarkan uang banyak untuk menomboki,” ujarnya.
SBY mendorong pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk segera menyiapkan antisipasi: kebijakan fiskal yang tepat, dan perlindungan daya beli rakyat bawah. Ia merujuk pengalaman pribadinya saat menaikkan harga BBM 140 persen dan meresponsnya lewat program Bantuan Langsung Tunai (BLT). “Jangan kantong rakyat dia enggak bisa makan. Biarlah kantong pemerintah kempes sedikit,” tuturnya.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar