Rasio Utang RI Disebut Berisiko ke Non-Investment Grade
- account_circle Robi
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Ferry Latuhihin/tangkapan layar
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Ekonom Ferry Latuhihin memperingatkan potensi penurunan peringkat kredit Indonesia dari investment grade menjadi non-investment grade, seiring membengkaknya beban pembayaran utang dan bunga dalam Rancangan APBN 2027 yang mencapai Rp650 triliun.
Ia menghitung debt service ratio Indonesia, perbandingan antara kewajiban bunga utang dengan pendapatan negara, berpotensi menembus di atas 20% tahun depan, mengingat proyeksi pendapatan negara yang berada di bawah Rp3.000 triliun.
“Ini sangat berbahaya loh, Pak. Rating agency bisa menurunkan rating kita dari investment grade menjadi non-investment grade,” ujarnya, menambahkan bahwa konsekuensinya adalah kenaikan biaya pembiayaan (cost of fund) akibat persepsi risiko yang lebih tinggi, di kanal YouTube-nya, diunggah Senin (31/8/2026).
Ferry menegaskan bahwa indikator yang lebih relevan untuk mengukur kekuatan fiskal bukan debt-to-GDP ratio, melainkan debt service ratio.
Ia turut menyoroti lingkungan suku bunga global yang diperkirakan tetap tinggi, dengan yield US Treasury bertenor 10 tahun berada di level 4,7 persen, serta proyeksi Bank of America yang menyebut The Fed tidak akan menurunkan suku bunga acuan setidaknya hingga 2028.
“Kalau Bapak paksa menurunkan suku bunga ini, kita akan mengalami nasib yang sama seperti Turki,” tegas Ferry, mengingatkan risiko rupiah melemah tajam apabila BI dipaksa melonggarkan kebijakan moneter di tengah tekanan fiskal tersebut.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar