Penguatan Rupiah Diduga Bukan Mekanisme Pasar
- account_circle Robi
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta– Ferry Latuhihin menduga penguatan rupiah ke level 17.600-an per dolar AS pasca-pengukuhan Destry Damayanti sebagai gubernur BI bukan disebabkan oleh mekanisme pasar, melainkan hasil intervensi besar-besaran Bank Indonesia di pasar valuta asing.
“Saya tahu bahwa menguatnya rupiah bukan karena mekanisme pasar, tapi karena BI intervensi habis-habisan,” katanya, di kanal YouTube-nya, diunggah Senin (31/8/2026).
Ia menilai penguatan tersebut berumur pendek, dan menyebut buktinya adalah dolar AS yang kembali menguat ke posisi 17.750 keesokan harinya. Menurutnya, indeks dolar AS yang menguat terhadap hampir seluruh mata uang dunia, namun justru melemah terhadap rupiah, menjadi indikasi adanya intervensi yang tidak wajar.
Ferry menduga langkah tersebut dilakukan untuk membangun kesan bahwa Destry disukai pasar. Namun ia mencatat bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya bergerak datar di sekitar level 6.500 justru menunjukkan pasar modal tidak antusias menyambut sosok gubernur BI baru tersebut.
Dalam konteks ini, Ferry menjelaskan konsep Unholy Trinity atau trilema kebijakan moneter, yakni bank sentral hanya bisa memilih dua dari tiga hal sekaligus: nilai tukar stabil, kebijakan moneter independen, dan arus modal bebas. Ia mewanti-wanti bahwa memaksakan ketiganya secara bersamaan berisiko mengorbankan independensi BI, seperti yang terjadi pada bank sentral Turki di bawah tekanan pemerintah Recep Tayyip Erdogan.
“Ongkosnya adalah mata uangnya melemah 85 persen dari tahun 2021 sampai ini hari,” ujar Ferry mengenai depresiasi lira Turki, seraya mengingatkan agar Destry tidak mengulang pola yang sama demi mendanai proyek-proyek pemerintah.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar