Menu

Mode Gelap
Prabowo: 2045 Indonesia Jadi Ekonomi Keempat Terbesar Dunia Tiga Tahun Lagi Kita Kuat di Energi, Kata Presiden Tekiro dan ITS Surabaya Kembali Gelar Servis Gratis Dan Pelatihan Otomotif Untuk Masyarakat Surabaya Prabowo Minta Pengusaha Muda Jadi Patriot Ekonomi, Jangan Bawa Kabur Kekayaan Prabowo: 1.000 Kawan Terlalu Sedikit, Satu Lawan Terlalu Banyak Saut Situmorang Sebut Korupsi MBG Merampok Orang Lapar, Desak Purbaya Diperiksa

DAERAH

DKI Bebaskan Pajak Listrik, tapi Siapkan Tarif Progresif

badge-check


					Foto: Jimi R Pardede/tangkapan layar Perbesar

Foto: Jimi R Pardede/tangkapan layar

INAnews.co.id, Jakarta– Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memilih mengikuti arahan Kementerian Dalam Negeri dengan membebaskan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) untuk kendaraan listrik. Namun di balik kebijakan itu, Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) DKI sebelumnya telah menyiapkan skema pajak progresif berbasis nilai jual kendaraan demi menjaga keadilan fiskal.

Kepala Bidang Pendapatan II Bapenda DKI Jakarta, Jimi R. Pardede, mengungkapkan bahwa sebelum surat edaran Mendagri keluar, Bapenda telah merancang gradasi insentif. “Kami siapkan pengurangan 75 persen untuk kendaraan listrik dengan nilai jual sampai Rp300 juta, lalu 65 persen untuk Rp300-500 juta, 50 persen untuk Rp500 juta-1 miliar, dan hanya 25 persen untuk di atas Rp1 miliar,” jelas Jimi dalam Media Briefing dan Launching White Paper bertajuk ‘Menimbang Pajak Kendaraan bagi Kendaraan Listrik di Daerah’ di Jakarta, Kamis (21/5/2025) yang disiarkan kanal YouTube INDEF.

Skema itu dirancang atas dasar prinsip keadilan perpajakan. Jimi menyinggung kasus yang sempat viral di Surabaya, yakni mobil listrik senilai Rp72 miliar yang bebas pajak sepenuhnya. Menurutnya, kondisi itu menimbulkan kecemburuan sosial, terutama di kalangan pengemudi ojek online yang tetap diwajibkan membayar PKB agar STNK-nya aktif.

Dari sisi fiskal, Jimi memaparkan tekanan berat yang dihadapi DKI Jakarta pada 2026. Dana Transfer ke Daerah (TKD) dari pusat turun hampir Rp15 triliun, membuat APBD DKI menyusut dari Rp91 triliun menjadi Rp81 triliun. Komponen PKB dan BBNKB menyumbang 35 persen dari total penerimaan pajak daerah, menjadikannya tulang punggung fiskal provinsi.

Bapenda DKI juga memproyeksikan bahwa pada 2030, porsi kendaraan listrik akan melampaui 50 persen dari total kendaraan baru. Jika insentif pajak terus berlaku tanpa batas, potensi kehilangan penerimaan PKB dan BBNKB dinilai sangat signifikan.

“Kita harus mencari titik keseimbangan yang adil. Ekosistem hijau tetap tumbuh, daerah tetap mendapat penerimaan,” ujar Jimi.

Untuk menambal potensi kehilangan pendapatan, DKI juga mendorong pergeseran perilaku masyarakat ke transportasi umum. Pemprov telah menerbitkan Peraturan Gubernur tentang budaya menggunakan transportasi umum, termasuk mewajibkan ASN naik angkutan umum setiap hari Rabu. Pengembangan MRT jalur utara-selatan dan timur-barat, LRT, Transjakarta, serta JakLingko juga terus dipercepat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Anggaran Aki Truk Sampah Sudin LH Jaksel Capai Rp3,9 Miliar, GSBK Pertanyakan Kualitas

10 Juni 2026 - 17:40 WIB

Listrik Padam Berjam-jam di Bogor, Warga Murka

9 Juni 2026 - 20:40 WIB

Perlindungan Konsumen Tidak Bisa Lagi Sentralistis: Saatnya Pemerintah Daerah Menjadi Garda Terdepan

2 Juni 2026 - 22:59 WIB

Bimo Andono, S.H., M.M., Pengamat Kebijakan Publik dan Anggota Kajian Strategis dan Pengembangan Riset Himpunan Alumni Institut Pertanian Bogor (HA IPB)
Populer DAERAH