INAnews.co.id, Jakarta– Mantan Menko Polhukam Mahfud MD menyatakan banyak laporan tentang kekacauan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lapangan tidak sampai ke Presiden Prabowo Subianto. Hal itu disampaikannya dalam podcast Terus Terang yang tayang Senin (16/3/2026).
“Laporan yang masuk ke Pak Prabowo itu banyak yang tidak sampai. Yang muncul justru puji-pujian terhadap semua program, padahal di masyarakat ada fakta-fakta yang tersiar secara meluas,” ujar Mahfud.
Mahfud menyoroti sejumlah kekacauan di lapangan, di antaranya pembagian lele mentah kepada siswa SMAN 2 Pamekasan tanpa tersedia kulkas untuk penyimpanan, santri pesantren yang terpaksa kembali dari libur Ramadan hanya untuk menghabiskan kiriman MBG, hingga kejadian keracunan massal di sejumlah sekolah termasuk SMAN 1 Yogyakarta.
Ia juga mempertanyakan logika penargetan penerima MBG yang menyasar 82,9 juta orang, jauh melampaui angka kemiskinan versi BPS sebesar 24,3 juta jiwa. Akibatnya, sekolah-sekolah mewah pun turut menerima program tersebut.
Mahfud menegaskan dirinya tidak menolak program MBG karena program ini merupakan janji kampanye yang telah dipilih rakyat. Namun ia mendesak perbaikan tata kelola secara menyeluruh dan terbuka, termasuk mekanisme pengawasan kualitas serta penindakan atas potensi penyimpangan anggaran.
“Kita tidak menolak MBG. Tapi tata kelolanya harus diatur ulang. Pengelola yang memimpin dari Jakarta kadang kala bicaranya ngawur,” tegasnya.






