Likuiditas Melimpah tapi Tersegmentasi
- account_circle Robi
- calendar_month 19 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Foto: Destry Damayanti, dok. kompas
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
INAnews.co.id, Jakarta- Dalam penampilan publik pertamanya usai dilantik, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengungkapkan bahwa likuiditas perbankan nasional sebenarnya cukup besar, namun distribusinya timpang antarbank sehingga menghambat penyaluran kredit, khususnya ke UMKM.
“Kalau kita lihat memang ee angka kredit ini nominal kredit yang 9.135 ini dengan naik 13,58 persen… tapi likuiditas itu sebenarnya ada. Tapi tinggal sekarang kalau kita bicara likuiditas penyebarannya merata atau tidak,” kata Destry dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia 2026, Kamis (3/9/2026).
Ia mengungkap bank-bank kini banyak menaruh dananya di instrumen SRBI dan SBN ketimbang menyalurkan kredit, sehingga BI menempuh kebijakan penurunan bertahap suku bunga SRBI dari 7,6 persen menjadi 6,99 persen. “Kita enggak bisa langsung brek, sudden drop, gitu. Kita harus bertahap dan mengikuti mekanisme pasar,” ujarnya.
Destry juga mengumumkan insentif baru sejak September 2026: bank dengan porsi SRBI/SBN di atas batas wajar (19 persen dari DPK) tidak lagi mendapat insentif giro wajib minimum (GWM), sementara bank yang menyalurkan kredit ke sektor prioritas mendapat keringanan. “Tujuannya apa? Bank-bank tadi yang punya banyak outstanding SRBI khususnya… dia akan mulai mengurangi posisinya, dia punya cash dan dia bisa kita dorong untuk intermediasi,” katanya.
- Penulis: Robi

Saat ini belum ada komentar